Tuesday, 27 September 2011

Mengejar Dunia Dengan Alasan Akhirat

Pekanbaru, Selasa 27 September 2011 / 28 Syawal 1432H.
Mengejar Dunia Dengan Alasan Akhirat ( upaya legalitas keinginan nafsu )


"kalau kita kaya, kita bisa bersedekah, berinfak, membantu fakir miskin, menolong orang susah, membangun mesjid, mendirikan Madrasah, dan sebagainya. jadi dengan kaya lebih bisa banyak berbuat kebaikan sehingga lebih banyak meraup pahala"

kalimat diatas atau semakna dengannya sering dilontarkan oleh orang-orang yang sedang memiliki niat untuk mendapatkan kekayaan dunia, namun tidak ingin disalah-artikan oleh orang lain sebagai pengejar dunia. seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa kesibukan mereka terhadap dunia ini adalah untuk kemaslahatan umat islam dan akhiratnya.

Kalimat lainnya yang biasanya mengiringi kalimat diatas : “bekerja kan mendapat pahala juga, mencari uang kan mendapat pahala juga“

kebanyakan dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat diatas adalah kehidupan sahabat-sahabat nabi Muhammad SAW yang ALLAH telah takdirkan kaya terhadap mereka, seperti halnya usman bin affan dan abdurrahman bin auf radhiyallahu'anhuma.

Abu Hurairah berkata; "Utsman bin Affan sudah membeli surga dari Rasulullah dua kali; pertama ketika mendermakan hartanya untuk mengirimkan pasukan ke medan perang, Kedua ketika membeli sumber air (dari Raimah)"(HR.Tirmizi).
usman menyumbang 20.000 ribu dirham untuk sumur milik orang yahudi. di perang tabuk usman bin affan telah berinfak 300 unta dan 1.000 dirham.

kisah sahabat abdurrahman bin auf ra. tidak kalah menariknya, ia berinfak sebanyak dua ratus uqiyah ketika perang tabuk. ketika Rasulullah menanyakan apa yang ia tinggalakan untuk keluarganya, maka Abdurrahman menjawab, "Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan." "Berapa?" Tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, "Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Masih banyak lagi kisah kedermawanan para sahabat yang kaya. Cerita-cerita seperti ini sering dikumpulkan untuk dijadikan dalil dalam upaya legalitas aktifitas keduniaan orang-orang diatas.

BENARKAH SEMAKIN BANYAK HARTA AKAN BANYAK KEBAIKAN YANG BISA DIBAGI?

sekilas statment "semakin banyak harta semakin banyak kebaikan yang bisa dibagi dan menghasilkan pahala yang lebih banyak" sangat bisa diterima, terutama dari pandangan jumlah atau besaran yang diderma dengan satuan ukuran yang tampak atau lahiriah. Sudut pandang seperti ini hanya mengukur berapa besar nilai harta yang diderma, sehingga nilai atau angka 100 yang diderma akan dianggap lebih mulia dibanding angka 10. Seseorang yang berinfak dengan seekor sapi lebih berpahala dibanding seseorang yang berinfak dengan seekor kambing. memberi anak yatim dengan nasi bungkus dari rumah makan lebih berpahala dibanding seseorang yang memberi makan anak yatim dengan makanan yang biasa dimakan sehari-hari.

Ternyata melihat dari sudut pandang jumlah atau besaran derma yang diberikan seperti diatas tidak cukup. Kebaikan itu tidak saja dinilai dari satuan besaran derma, jauh dari  itu ALLAH mengganjarkan pahala kebaikan seseorang itu dari satuan besaran mujahadah dan keikhlasan. 10 dinar dengan 100 dinar yang diinfakkan tidak berarti lebih banyak pahala orang yang berinfak 100 dinar, karena yang dilihat itu seberapa mujahadahnya pengorbanan antara 10 dengan 100 dinar tersebut.

Dari abu hurairah r.a, ia berkata bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi SAW., “Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw bersabda, “Bersedekah pada waktu sehat, tamak kepada harta, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘ harta untuk sifulan sekian, dan untuk sifulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik sifulan (ahli waris)” (HR Bukhari,Muslim – Misykat).

Dari abu hurairah ra. Bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. Menjawab, “Sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang tidak mampu. Dan mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggunganmu (HR. Abu Daud – Misykat).

Didalam kitab fadhail shadaqah, setelah mengutip hadis diatas, Maulana muhammad zakaria al-kandahlawi rah.a. mengemukakan sebuah riwayat hadist dari Ali r.a. “Ali ra berkata bahwa tiga orang datang kepada Rasulullah saw. Salah seorang diantaranya berkata, “wahai Rasulullah, saya mempunyai uang seratus dinar, saya telah membelanjakannya sepuluh dinar dijalan Allah.” Kemudian orang kedua berkata, “Saya mempunyai uang sepuluh dinar, dan saya telah menyedekahkannya satu dinar.” Orang ketiga berkata, “Saya hanya mempunyai 1 dinar, dan saya menyedekahkannya sepersepuluh bagian dari uang tersebut.” Rasulullah saw bersabda, “pahala kalian sama, karena kalian bersedekah dengan sepersepuluh dari harta yang kalian miliki.”

Dalam hadist lain menyebutkan kisah semacam ini, Rasulullah saw menjelaskan jawaban atas pertanyaan mereka, bahwa mereka memperoleh pahala yang seimbang karena masing-masing telah menyedekahkan sepersepuluh harta mereka. Setelah bersabda, Rasulullah saw. Membaca ayat terakhir dalam ruku’ pertama surat ath-thalaq :

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuan-nya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tideak membebani seseorang melainkan (sekedar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. Kelak Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”(QS: Ath_Thalaq:7). (Kanzul-ummal).

‘Allamah Suyuti rah.a dalam kitab Durul manstur telah memberi keterangan tentang ayat diatas, yaitu sebuah kisah mengenai sahabat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ali r.a. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadist yang shahih yang menyatakan bahwa bersedekah satu dirham dapat menjadi lebih besar dari seratus ribu dirham dari segi pahalanya. Yaitu, apabila seseorang mempunyai uang sebesar dua dirham, kemudian ia menyedekahkannya sebesar satu dirham dijalan Allah. Dan orang lain yang mempunyai harta yang banyak dan menyedekahkannya hanya seratus ribu dirham, maka satu dirham yang disedekahkan orang pertama mempunyai pahala yang lebih banyak.

Hal yang menarik lainnya adalah pemilik harta belum tentu mendapatkan pahala lebih dari pada orang suruhannya. Misalnya seorang raja memberikan sebuah delima kepada seorang bawahannya untuk diberikan kepada seseorang yang sakit di sebuah kampung yang letakknya sangat jauh, maka apa yang dilakukan pegawai tersebut lebih berharga dibandingkan apa yang dilakukan oleh raja (Aini).

“Al ajru ‘ala qadrinnashob” (sesungguhnya pahala itu tergantung pada jerih payahnya).

Kalau kita cermati kisah perang tabuk, yang paling banyak dermanya saat itu adalah utsman bin affan r.a. dengan 300 unta + 1000 dinar. Tapi kisah yang terkenal bukan tentang sedekahnya utsman, melainkan abu bakar dan umar yang telah menyedekahkan seluruh harta dan separuh hartanya. Padahal seluruh harta yang dinfakkan abu bakar r.a. ketika itu tidak sebanyak apa yang diinfakkan utsman bin affan r.a. Begitu juga dengan umar bin khattab r.a., ia tidak menghitung total jumlah kesulurahan harta abu bakar untuk dibandingkan dengan jumlah total harta yang diinfakkannya, namun umar hanya melihat bahwa abu bakar telah menginfakkan "SELURUH HARTA" sedangkan ia hanya "SEPARUH HARTA".

Umar bin Khaththab r.a. menuturkan, "Rasulullah saw. menyuruh kami bersedekah. Kebetulan saat itu aku memiliki cukup banyak harta sehingga aku sempat berkata dalam hati, hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar r.a., jika memang berhasil mengalahkannya.’ Aku menemui Rasulullah saw. dengan menyerahkan se-tengah hartaku. Rasulullah saw. bertanya, 'Berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu?' Aku menjawab, 'Sebanyak yang kuserahkan ini.’ Kemudian datanglah Abu Bakar r.a. dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah saw. bertanya, 'Hai Abu Bakar, berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu.' Abu Bakar menjawab, 'Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.' Aku berkata dalam hati lagi, 'Demi Allah, aku tidak akan pernah dapat mengalahkannya'." (HR Tirmidzi) ( Diriwayatkan olel1 Tirmidzi, Kitab al-Manaqib; Bab fi Manaqib Abi Bakr, no.3675. Tirmidzi berKata, "Hadits ini hasan shahih".)

Umar merasa dirinya telah kalah dari abu bakar bukan karena banyaknya harta yang diinfak, tapi pengorbanan dan kecintaan terhadap agama yang menjadi acuan standarnya, umar masih menyisakan setengah hartanya, sementara abu bakar telah sepenuhnya berkorban untuk agama ini.

TIDAK BERCERMIN DENGAN KEHIDUPAN SAHABAT SECARA KESELURUHAN.

kalau kita perhatikan kehidupan sahabat secara komprehensif, maka kita akan melihat bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan perkara agama. ada sahabat yang habis hartanya karena agama, ada sahabat yang hartanya tetap atau tidak bertambah atau berkurang, ada juga sahabat yang rezekinya melimpah bertambah walaupun sudah habis-habisan menginfakkan hartanya. Tidak akan kita jumpai sahabat menyibukkan diri dan waktunya untuk mengumpulkan harta dengan alasan akhirat. Dahulu abu bakar r.a. adalah saudagar yang kaya, kemudian hartanya habis karena agama. Dahulu khadijah r.ha. adalah wanita yang kaya, kemudian hartanya habis untuk agama.

Utsman bin affan r.a. adalah pedagang, tapi kekayaannya bukan karena ia menyibukkan diri dengan perdagangannya. Abdurrahman bin auf r.a. juga pedagang yang kaya, tapi kekayaannya bukan karena ia menyibukkan diri dengan perdagangannya. utsman bin affan dan abdurrahman bin auf memang ALLAH telah takdirkan menjadi pedagang besar yang memasok barang dagangan dari syam. mereka tidak pernah meninggalkan panggilan jihad karena perdagangannya.

Intinya adalah : para sahabat berlomba-lomba untuk akhirat sesuai dengan kemampuannya. dan tiap sahabat memiliki kemuliaan tersendiri dari apa yang mereka usahakan terhadap akhiratnya. mereka tidak melihat bahwa jalan terbaik untuk mendapatkan akhirat adalah dengan banyak harta. bahkan... sahabat adalah orang-orang yang tidak peduli apakah hartanya berkurang atau bertambah karena agama.

Begitulah agama.., tiap orang bisa mulia dengan apa yang ia miliki. tiap orang bisa bahagia walau bagaimanapun kondisinya, tiap orang bisa saling berlomba untuk akhirat walau memiliki kapasitas yang berbeda.

orang kaya bisa berdalil dengan keutamaan berinfaknya.
orang miskin bisa berdalil dengan keutamaan seorang yang miskin ( 500 tahun lebih dahulu masuk surga dibanding kaya, dsb..)
orang berilmu bisa berdalil tentang keutamaan ilmunya.
orang yang hapal aquran bisa berdalil dengan keutamaan para huffaz.
orang yang terbata-bata membaca quran pun bisa berdalil dengan keutamaan orang yg bersungguh-sungguh membaca, sehingga mendapat 2 pahala.
imam bisa berdalil dengan keutamaan seorang imam, muazin pun bisa berdalil dengan keutamaan muazzin.
Sahabat-sahabat nabi bisa berdalil tentang keutamaannya, umat akhir zaman pun bisa berdalil dengan keutamaan umat akhir zaman.

intinya adalah : siapa pun, kondisi bagaimanpun, di zaman apa pun, di posisi manapun, bisa meraup pahala yang besar untuk akhiratnya, bisa memiliki andil besar untuk kebaikan, bisa saling berlomba menggapai ridho ALLAH, bisa saling bersaing mendapatkan surga yang tertinggi.

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuan-nya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tideak membebani seseorang melainkan (sekedar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. Kelak Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”(QS: Ath_Thalaq:7)

TIDAK PERLU BANYAK HARTA UNTUK KEJAR AKHIRAT, BAHKAN SI MISKIN LEBIH BERANI DAN BANYAK BERKORBAN DI BANDING SI KAYA.

Harta bukanlah hal yang tertinggi dalam jajaran tingkat pengorbanan agama karena azaz pengorbanan agama itu meliputi dua hal, yakni diri dan harta. Alllah selalu menggandeng dua hal ini ketika berbicara tentang pengorbanan terhadap agama :

"Berangkatlah engkau semua, dengan rasa ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta-harta dan dirimu semua fisabilillah." (at-Taubah: 41)

"Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang fisabilillah, sebab itu mereka dapat membunuh dan dibunuh, menurut janji yang sebenarnya dari Allah yang disebutkan dalam Taurat, Injil dan al-Quran. Siapakah yang lebih dapat memenuhi janjinya daripada Allah? Oleh sebab itu, bergembiralah engkau semua dengan perjanjian yang telah engkau semua perbuat dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar." (at-Taubah: 111)

"Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk-duduk -di rumah yakni tidak mengikuti peperangan- dari golongan kaum mu'minin yang bukan karena keuzuran, dengan orang-orang yang berjihad fisabilillah dengan barta-harta dan dirinya. Allah melebihkan tingkatan orang-orang yang berjihad dengan harta-harta dan dirinya itu daripada orang-orang yang duduk-duduk tadi. Kepada masing-masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang duduk-duduk dengan pahala yang besar, yaitu berupa derajat-derajat -yang tinggi, juga pengampunan dan kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 95-96)

"Hai sekalian orang-orang yang beriman. Sukakah kalau saya tunjukkan kepadamu semua akan sesuatu perdagangan yang dapat menyelamatkan engkau semua dari siksa yang menyakitkan? Yaitu supaya engkau semua beriman kepada Allah dan RasulNya dan pula berjihad fisabilillah dengan harta-harta dan dirimu semua. Yang sedemikian itu adalah lebih baik untukmu semua, jikalau engkau semua mengetahui. Allah juga akan mengampunkan dosa-dosamu semua serta memasukkan engkau semua dalam syurga-syurga yang mengalirlah sungai-sungai di bawahnya, demikian pula beberapa tempat tinggal yang indah di syurga 'Adn -kesenangan yang kekal- dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar. Ada pula pemberian-pemberian yang lain-lain yang engkau semua mencintainya, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (as-Shaf: 10-13)

Dilihat dari ayat-ayat diatas, ternyata azaz dari pengorbanan itu adalah diri dan harta. Seseorang itu disebut sempurna pengorbanannya untuk agama bila dirinya ikut terjun berjihad dengan hartanya sendiri. Dahulu sahabat nabi berjuang dengan dirinya dan hartanya masing-masing. Sahabat-sahabat yang tidak memiliki harta, bila ada perintah jihad, maka ia berusaha bekerja untuk mendapatkan harta dengan bekerja atau mengambil upah dan kemudian dengan harta itu ia berangkat berjihad. Sahabat-sahabat yang benar-benar tidak memiliki harta pun berangkat dengan harta orang lain. Yang tersisa dari itu adalah sahabat-sahabat yang memang memiliki keuzuran ( faktor usia, kondisi fisik yang lemah, dsb) sehingga hanya hartanya saja yang diinfakkan tanpa dirinya ikut serta. Dari hal ini dapat terlihat bahwa tingkat atau keutamaan berkorban dengan diri jauh lebih utama dari berkorban dengan sekedar harta.

".....Kepada masing-masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang duduk-duduk dengan pahala yang besar, yaitu berupa derajat-derajat -yang tinggi, juga pengampunan dan kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 95-96)

Dari bukti empiris di lapangan, ternyata yang terjadi di dunia dakwah adalah si miskin lebih berani berkorban untuk agama dibanding yang banyak harta. Si miskin lebih tangguh untuk meninggalkan pekerjaannya demi agama. Si miskin lebih sanggup untuk bersusah-susah dilapangan dibanding yang kaya. si miskin sanggup dengan resiko mati dalam da’wah dibanding yang banyak harta. Si miskin lebih tahan banting menerima tekanan dan hinaan dalam dakwah. Si miskin lebih berani meninggalkan harta dan keluarganya dibanding yang kaya.

Dan si kaya…, hanya berani memberi harta tanpa sanggup terjun langsung ke kancah da’wah dilapangan. Tidak sanggup berpanas-panas, tidak sanggup kelaparan, tidak sanggup terluka, tidak sanggup kerja kasar, tidak sanggup meninggalkan pekerjaan dalam waktu lama, tidak sanggup berpisah dengan rumah yang mewah menuju ke pelosok-pelosok negeri. Si kaya…., hanya memberi hartanya yang bahkan tidak sampai 1% dari hartanya untuk suatu keperluan agama.

=====================
kalau ada orang yang meninggalkan jabatan karena agama, maka ku cenderung percaya. tapi kalau ada orang yang mengejar jabatan dengan alasan agama atau akhirat, ku cenderung tidak percaya.

kalau ada orang yang sibuk menginfakan hartanya karena alasan agama, maka ku cenderung percaya. tapi kalau ada orang yang sibuk mencari harta dengan alasan agama dan ingin banyak pahala nantinya, maka ku ragu akan ketulusan niatnya.
==============

Icun bin abdullah
Klik Selengkapnya...

Thursday, 8 September 2011

Malu yang telah terkikis (buat facebooker)


Malu yang telah terkikis
Kadar iman yang telah menipis
Syahwat yang diumbar habis
Berfoto mesra dengan lawan jenis
Bangga dipampang di wall facebook dengan narsis
Suami istri pun tak berani bergaya persis
Inikan pulak masih bujang dara yang amis.




Lihat apa yang ditulis
Penuh kalimat kepayang dan romantis
Pujian dan ucapan sayang setinggi langit yang berlapis
Padahal masih berstatus pacaran yang hina dan najis

Oh… mana Orangtua dan saudara bujang dan gadis
Yang menjadi teman facebook si ganteng dan si manis
seolah mereka beranggapan itu sesuatu yang biasa dan logis
Melihat tanpa risau dan tangis.

Oh.. sungguh ironis..
Orangtua saudara bujang atau gadis
hidup hanya mengacu kepada syahwat dan modernis
malu, iman, agama dan norma adat dibungkus dan ditepis
Lupa akan dunia yang berakhir habis
Seolah diakhirat tanpa tanggungjawab hanya duduk manis
Saat tibanya nanti lihatlah siapa yang tertawa dan siapa yang menangis.

== icun bin abdullah==

*  untuk teman-teman facebook ku..
Klik Selengkapnya...

Saturday, 23 July 2011

kumpulan pantun dan kata bersajak puasa dan hari raya

Jakarta, 23 Juli 2011 ( 8 hari jelang puasa 1432 H ), sambil menunggu jadwal keberangkatan di bandara soekarno hatta ke pekanbaru plus delay 30 menit. :)

Berikut ini merupakan kumpulan sms-sms yang masuk ke nomor HP ku 2 tahun terakhir yang berhubungan dengan menyambut bulan puasa dan hari raya yang masih tersimpan di memori HP (sebenarnya dahulu masih banyak lagi, tapi dah terdelete) . Diantaranya ada yang telah diubah suai, dan ada juga buatan sendiri sebagai balasan sms yang masuk. Mudah-mudah kumpulan sms pantun dan sajak puasa dan hari raya ini bermanfaat atau menjadi bahan referensi, terutama yang bingung membuat sajak, belum pernah kursus pantun, terlalu sibuk sehingga tidak sempat membuat pantun atau sajak. Selamat menikmati.. J

Sajak dan Pantun puasa dan hari raya 1430 dan 1431 H

Sajak :

  1. Bile nafas sudah semput, teringat pulak amal hanye sejumput, Alamat malaikat maut datang menjemput, ambil nyawe sekali renggut.

  1. Meminta maaf tak menjadi kita hina,

Memberi maaf tak menjadi kita bangga,

Tapi... Saling memafkan yang membuat kita Mulia,

karena manusia tak ada yang sempurna.

  1. Meski paras tak bersua wajah

Jemari disusun merangkai sembah

Mohon dimaafkan khilaf dan salah

Marhaban ramadhan yang penuh berkah

  1. Gema takbir memuja ilahi

Merangkai indahnya silaturahmi

Selamat hari raya idul fitri

Mohon maaf sucikan diri.

  1. Waktu mengalir bagaikan air

Ramadhan suci akan berakhir

Ada luka yang pernah terukir

Ada silap yang sempat tergulir

Maaf ku pinta mengiring gema takbir.

  1. Diantara baik dan kata

Antara canda dan tawa

Ada khilaf yang tercipta

Seuntai maaf penyejuk jiwa

Semoga kebersamaan selalu terjaga.

  1. Tersilap khilaf dalam candaku

Tergores luka dalam tawaku

Terbelit pilu dalam tingkahku

Tersinggung rasa dalam bicaraku

Harap besarku terhadapmu

Maafkan segala silaf dan salahku

Pantun :

  1. Kepulauan meranti name negeri

Ramai kapal singgah menepi

Ramadhan datang sekejap lagi

maaf ku mohon khilafnye diri

  1. Bunga melati indah berseri, cermin hati dihari suci

SMS dikirim pengganti diri, lambang dari silaturrahmi

  1. Indah nian bunga ditaman, warna berseri sejuk dipandang,

Alangkah indah bertemu romadhan, anugerah dan ampunan telah pun datang.

  1. Sirih dimakan si anak raja, dimakan diatas beranda,

SMS sudah kami terima, terucap pula kata yang sama.

  1. Sejadah indah nan berseri, Jadi hiasan hati nan suci,

SMS datang pengganti diri, tanda ikatan tali silaturrahmi.

  1. Ingat petuah sanak kerabat, indahnya mawar tapi berduri,

Andai tak sempat tangan berjabat, SMS ini pengganti diri.

  1. Berfatwa raja hulu balang, negeri melayu tanah harapan,

Romadhan sudah menjelang, salah dan khilaf mohon dimaafkan.

  1. Bingkai ketupat daun kelapa, kelapa muda enak dirasa,

Bulan romadhan telah pun tiba, maaf atas salah dan dosa kami sekeluarga.

  1. Tuai padi diwaktu petang, padi pulut masak besantan,

Awal romadhan sudah pun diambang, silaf dan salah mohon dimaafkan.

  1. Sungguh cantik burung kenari, terbang sampai ke pulau bintan

Ramadhan sehari lagi, salah dan khilaf mohon dimaafkan.

  1. Dari langkat ke kota medan, singgah sebentar membeli kain,

Selamat datang bulan romadhon, mohon maaf lahir dan bathin.

  1. Dari bengkalis ke negeri jiran, buah tangannye lempuk durian,

Telah pun datang bulan romadhan, lahir dan bathin mohon dimaafkan.

  1. Pucuk selasih tunas menjulang, tampak elok tolong dirapikan,

Puasa romadhan kembali datang, salah dan khilaf mohon dimaadkan.

  1. Sungguh cantik kain pelekat, dipakai orang pergi kepesta.

Idul fitri semakin dekat, mari disambut dengan suka cita

  1. Due tige orang malaysia, manakan same si Nurdin M Top,

Idul fitri menjelang tiba, silaturrahmi jangan di stop.

  1. Kembang Melati sungguhlah indah, ditengah halaman jadi hiasan,

Harum idul fitri tercium sudah, salah dan khilaf mohon dimaafkan.

  1. Kain songket merah delima

Dipakai oleh pangeran muda

Gema takbir menyeruak angkasa

Tande raye tlah pun tiba

Celamat ali laya oo..

Klik Selengkapnya...

Saturday, 25 June 2011

Bahaya merasa telah mengikuti alquran dan sunnah padahal masih awam dan taqlid

Pekanbaru, 26 Juni 2011

Adanya kecenderungan saat ini, dengan selogan “kembali kepada aquran dan sunnah”, sehingga menyepelekan pendapat ulama mujtahid. Seseorang terlalu gampang beramal hanya dengan membaca 1 atau 2 ayat dan hadist saja.

Kaum muslimin pada umumnya, bila ditanyakan dalil dalam suatu amalan agama, biasanya cenderung tidak mampu menjawab. Di indonesia umumnya, bila ditanya tentang mazhab, maka kecenderungan menjawab adalah “saya bermazhab syafii”. Walaupun sebenarnya yang lebih tepat adalah “saya bermazhab orangtua saya”, atau “saya bermazhab dengan kebiasaan ditempat saya”

Posisi atau gambaran diatas, menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita masih dalam posisi taqlid dalam menjalankan agama. Kondisi seperti ini sangat rawan dan gampang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang ingin menanamkan kepahamannya, baik itu kelompok yang jelas-jelas tergolong aliran sesat, ataupun kelompok yang masih dalam ruang lingkup/koridor islam itu sendiri. Hanya dengan berbekal 1 atau 2 hadist, atau 1 atau 2 ayat saja, seseorang bisa dengan mudah dipengaruhi. Tidak cukup sampai disitu, selain mempengaruhi dalam tatacara beramal, juga dengan mudah berbalik arah menghukumi tatacara beramal masyarakat umumnya adalah salah,lemah, bid’ah, dan sebagainya..!

orang-orang seperti ini gampang terjebak dengan pemahaman agama yang timpang, terbius dengan kalimat “kembali kepada alquran dan sunnah”, kemudian dengan serta merta “yang penting ada dalil alquran dan hadist” nya. Jika tidak ada dalil quran dan sunah secara tekstual dan shohih tanpa ikhtilaf para muhaddist, maka sangat gampang mengcap bid’ah, tertolak, yang ujungnya memandang bahwa pelaku akan masuk neraka. padahal ulama terdahulu memiliki methode-methode dalam istimbath hukum, tidak sekedar tinjauan teks literatur dan sanad hadist saja.

Teringat ketika awal saya mempelajari agama dari buku-buku agama yang ada, buku-buku hadist, artikel-artikel fiqh, saat itu saya mulai teracuni dengan konsep yang didengungkan diatas. Saya contohkan saja, ketika saya melihat ada ikhtilaf fiqh dalam soal qunut subuh, saat itu saya mendapatkan tulisan dari orang-orang yang membid’ahkan qunut subuh. Tulisan itu mengemukakan segala dalil tentang qunut subuh yang kemudian dibantah satu persatu. Setelah semua dalil “berhasil” dipatahkan, kemudian barulah ditampilkan dalil dan pendapat-pendapat para ulama yang membid’ahkan perkara qunut tersebut. Wal hasil.., dari membaca tulisan itu, saya telah teracuni bahwa qunut subuh adalah bid’ah, ibadahnya akan tertolak, bahkan pelakunya terancam neraka. Untuk beberapa lama racun itu terus mengendap dalam diriku.

Kasus lainnya, ketika ada ikhtilaf fiqh tentang zikir dengan mengeraskan suara sehabis sholat, saat itu saya mendapatkan tulisan yang menbid’ahkan perkara tersebut, tulisan yang sangat terkesan komprehensif dalam membahas perkara tersebut, lengkap dengan dalil, pendapat ulama terdahulu berkenaan dalil tersebut, kemudian diikuti tafsir dari dalil-dalil tersebut. Wal hasil.... pikiranku juga teracuni bahwa mengeraskan suara disaat wirid sehabis sholat adalah perbuatan bid’ah, yang tertolak, yang ujungnya memandang bahwa pelakuknya bisa-bisa masuk neraka.

Kasus lainnya, ketika ada ikhtilaf tentang jumlah rekaat sholat terawih, sebuah buku atau artikel ku baca yang ketika itu bagiku sudah konmprehensif dalam membahas perkara ini. Lengkap dengan dalil dan argumentasi yang mendukung jumlah terawih dan witir 20+3=23 rekaat, kemudian dipatahkan satu persatu, kemudian dimunculkan dalil-dalil dan argumentasi yang mendukung jumlah rekaat sebanyak 8+3=11, sehingga jadilah 11 rekaat sebagai pemenang dengan skor telak tanpa balas terhadap 23 rekaat. Wal hasil.. racun yang menyebabkan ku merasa sudah mantap dan berilmu dengan perkara ini, dan merasa bahwa lebih “SUNNAH” kalau 11 rekaat dibanding 23 rekaat telah mengendap dalam diri ini. Bahkan ku sempat berdebat dengan orangtuaku yang mendukung 23 rekaat.

Waktu berlalu seiring semakin banyaknya bacaan dan muzakarah dengan para ustadz, orang-orang sholeh, dan bergabung dengan komunitas muslim di dunia maya. Mulailah racun itu terkikis secara perlahan. Mulailah diri ini paham posisi diri sebenarnya dalam ilmu agama, yang sebelumnya merasa sudah “beramal dengan dalil yang shohih”, sekarang mulai merasa tertipu dengan penggiringan sepihak dari kelompok tertentu dalam beramal.

Waktu yang berjalan telah mengungkap pandangan-pandangan lain dari apa yang saya baca dan pahami sebelumnya. Saya mulai paham ternyata 1 dalil yang sama bahkan bisa beda penafsiran. 1 dalil yang sama bisa beda para mujtahid dalam istimbath (mengambil hukum).

Terungkap bahwa banyak sekali generasi salafussholeh yang mendukung qunut shubuh, bahkan lebih banyak yang mendukung qunut subuh dibanding yang tidak mendukung.

Terungkap bahwa zikir dengan mengeraskan suara juga memiliki dalil yang bisa diterima.

Terungkap juga bahwa sholat terawih dengan jumlah rekaat 23 sangat banyak ulama yang menghasilkan istimbath seperti itu.

Saya ingin menceritakan kejadian terakhir 2 minggu yang lalu, dalam sebuah kajian ilmiah di musholla tempatku kerja, membahas tentang puasa dibulan sya’ban. Dalam kajian tersebut sang ustad mengupas tentang dalil yang shahih puasa dibulan sya’ban :

Sebagai dalil pembuka ia ketengahkan dalil :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

siapa melakukan amalan yang bukan dari urusan (agama) kami, maka amalannya tertolak
[. Bukhari-Muslim]

kemudian sang ustad kemukan dalil shahih tentang puasa dibulan syaban :

‏عَنْ ‏ ‏عَائِشَةَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ‏ ‏قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ‏

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956).

Kemudian sang ustad menjelaskan bahwa kebiasaan adanya kaum muslimin yang berpuasa sejak awal sya’ban sampai 10 hari, atau sejak awal sampai 15 hari (nifsyu syaban), atau sampai 20 syaban, adalah salah. lebih kurang ucapannya :

“bukan begini implementasi dari hadist ‘aisyah’ tersebut, dalil tersebut hanya menjelaskan bahwa rosulullah paling banyak berpuasa itu dibulan sya’ban, dan itu adalah puasa sunnah. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.” Juga berkata Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya.. Jadi mengkhususkan waktu seperti itu tidak diajarkan dalam hadist tersebut, yang benarnya adalah memperbanyak puasa-puasa sunnah yang jelas dalilnya, seperti puasa senin kamis, puasa 3 hari pertengahan bulan, bahkan kalau mau puasa daud(sehari puasa sehari tidak).”

Sebagai seorang talabul ilmi, maka kita harus jeli melihat tiap ucapan yang datang dari sang ustad, kita harus mampu menangkap atau memisahkan mana dalil, mana syarahan dari para ulama terdahulu, dan mana pendapat ustad itu sendiri. Mampu memisahkan 3 hal tersebut sangat penting untuk kita bersikap. Sehingga kita tidak terjebak merasa sudah mengembalikan amal kita langsung kepada alquran dan sunnah, padahal kita hanya mengikuti pendapat ustad tersebut saja.

Kita perhatikan kasus diatas. Dalil hadist cukup jelas merupakan dalil amm/umum. Tidak menyebutkan nama puasanya, tidak menyebutkan waktu/hari-harinya, tidak menyebutkan tata caranya.

Perhatikan lagi bagian syarahan, ibnu hajar dan ibnu rajab mensyarahkannya pun masih bersifat umum, ia menjelaskan bahwa puasa tersebut adalah sebagai puasa sunnah.

Sisa dari dalil hadist dan syarahan ibnu hajar dan ibnu rajab itu adalah pendapat ustad itu sendiri. Menganggap “fahua rodd”(amalannya tertolak) orang yang berpuasa diawal sya’ban sampai beberapa hari yang ia sanggupi adalah murni pendapat ustad, bukan dari “al-quran dan sunnah”.

Talabul ilmi yang tidak mampu memilah ketiga hal ini menyebabkan kesalahan dalam pemahamanan, sehingga berkata kepada orang yang berpuasa beberapa hari diawal-awal sya’ban dengan ucapan “beramal itu harus mengikuti alquran dan sunnah sesuai pemahaman generasi shalafussholeh”, padahal yang ia pahami itulah adalah pendapat ustad, bukan pendapat al-quran dan sunnah, bukan pula ulama terdahulu.

seseorang pernah mengomentari dari sebuah email tentang adanya ajakan secara lembut untuk meninggal mazhab yang ada dan kewajiban mengikut al-quran dan sunnah semata, dengan mengutip ucapan ke empat imam mazhab yang bernada sama, yakni :

Imam Syafi’I rahimahullah berkata : “Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan. (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

Maka pengirim email itu berkomentar lebih kurang ( beberapa kata sudah saya edit demi menjaga tidak terjadinya ketersinggungan kelompok tertentu) :

“Pernah di suatu masjid, ketika ana selesai shalat ada seorang ustadz yg mengisi kajian fiqh tentang shalat.Beliau berkata kurang lebih seperti ini " dalam shalat, kita harus benar-benar mengikuti Rasulullah, bukan mengikuti ajaran orang-orang tua kita, ustadz-ustadz kita, dan para ulama madzhab". "Ikuti sunah Rasulullh!". "Karena itu lupakan pelajaran-pelajaran yg pernah antum dapat! mari kita lihat langsung dari hadist-hadist bagaimana Rasulullah shalat".

Kemudian ustadz ini mengeluarkan buku "sifat shalat nabi" karangan salah seorang ulama timur tengah, dan sng ustad mengajak kita semua untuk mengikuti cara shalat yg disebutkan dalam buku tersebut.
Ana tertawa didalam hati..karena ana tahu di dalam buku tersebut, tidak hanya memuat hadist Rasulullah , tapi juga interpretasi dari syaikh tersebut terhadap hadist Rasulullah. Terdapat ijtihad Syaikh tersebut terhadap kekuatan riwayatnya juga ijtihadnya dalam memahami maksud hadist. Jadi ustadz tersebut mengajak orang meninggalkan Para Imam, dan diwaktu yg sama mengajak orang taqlid kepada syaikh tersebut.

Dan realita saat ini orang-orang yg bermadzhab dengan 4 madzhab terkenal sudah jarang sekali berselilsih. Yang banyak berselisih justru yg taqlid kepada ulama kontemporer termasuk taqlid kepada syaikh tersebut yang oleh pengikutnya digelar dengan “muhaddist zaman ini”. ironis! “
Ketahuilah untuk bisa melakukan istimbath hukum perlu perangkat keilmuan yg banyak. Jadi apa yg dikatakan para Imam madzhab tersebut bukan untuk kalangan awam seperti kita, tapi untuk ulama juga. Imam An-Nawai sudah menjelaskan maksud dari perkataan Imam Asyafi'i tersebut adalah untuk para ulama pada level tertentu, yg sudah mengkaji semua kitab karangan sang Imam. Orang awam dimanapun pasti taqlid (atau kalau tidak mau disebut taqlid, itiba'). Kalaupun tidak mau taqlid/itiba' dengan Imam madzhab pasti taqlid/itiba' dengan para syaikh atau ustadz-ustadznya."

Kita tidak bisa mengatakan kepada orang yang berpuasa diawal bulan sya’ban hingga beberapa hari menurut kesanggupan atau target yang ingin mereka capai sebagai suatu amalan baru yang diada-adakan tanpa dalil. Karena dalilnya umum berkenaan memperbanyak puasa, kemudian oleh ibnu hajar mengatakan puasa disini adalah sebagai puasa sunnah.

sebagaimana kita tidak bisa mengatakan orang-orang yang membiasakan diri melakukan kajian agama rutin tiap malam jum’at adalah mengkhususkan malam tertentu, karena dalil menuntut ilmu itu bersifat umum, jadi boleh hari apa saja dilakukan, boleh tiap malam jum’at, malam sabtu, tiap malam senin s/d kamis.

Sebagai contoh, perhatikan generasi terdahulu mengimplementasikan bulan saya’ban sebagai bulan para qori’ dengan menutup tokonya dan sibuk membaca quran :

Adalah Salamah bin Kuhail berkata:”Bulan ini adalah bulan membaca (alquran).Juga Habib bin Abi Tsabit apabila memasuki bulan Sya’ban berkata “Hadza Syahrul Qurra”( ini adalah bulannya para qori).Dan Umar bin Qois Al Mala-i apabila memasuki Sya’ban menutup tokonya untuk membaca Al Qur’an (Al Ghaflah ‘an Syahri Sya’ban http://www.rayatalislah.com/kalimah/chaabane1430.htm, )

Apakah lantas kita mengatakan bahwa umar bin qois tertolak bacaan qurannya karena tidak ada dalil yang menunjukkan secara eksplisit melakukan hal seperti itu? Tentu saja tidak.

Sebagai simpulan akhir dari tulisan ini, ingin ku sampaikan bahwa :
seorang awam dalam agama, masih memiliki jwa muda yang memiliki jasbah/semangat beragama, dengan gejolak jiwa yang ingin tampil beda melawan kebiasaan yang ada, namun tidak paham bagaimana proses dari terbentuknya sebuah istimbath hukum dalam suatu perkara, tidak paham dengan ranah ijtihad dan munculnya khilafiyah, tidak banyak mendengar atau membaca hadist, tidak mau membuka diri terhadap ulama atau ustad lain selain kelompoknya, ta’ashub(fanatik) terhadap syeikh dan kelompoknya, seorang yang awam seperti ini terlalu rawan untuk diracuni dengan pemahaman tertentu, baik itu pemahaman yang jelas jelas disepakati menyimpang oleh jumhur umat islam, maupun pemahaman yang merasa paling benar dalam beragama dengan selogan-selogan “kembali kepada al-quran dan sunnah”.

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Thursday, 23 June 2011

Berpeluk-cium dahulu, berijab-qobul kemudian


Pekanbaru, 24 Juni 2011

Entah dari negara mana asalnya, entah bagaimana pula bisa terinfeksi ke Indonesia, entah siapa pula yang melakukan pertama di negeri melayu ini. Sepanjang yang diriku tau, yang pertama kali melakukan foto pre wedding adalah kelompok masyarakat menengah keatas, baik itu dari orang kaya atau pejabat berkuasa. Karena biaya untuk membuat sebuah undangan lux beserta gambar-gambar prewedding cukup menguras kantong celana. Satu undangan lux lengkap dengan foto pre wedding sebanding dengan 1 nasi bungkus dari Rumah Makan Minang, bahkan lebih mahal lagi biaya satu biji undangan tersebut. Dari segi mahalnya undangan ini saja, sudah cukup alasan bagi kita untuk menahan diri melakukannya, bukankah undangan itu akan dibuang ke tong sampah pada akhirnya ?

Berkenaan foto prewedding ini sudah ada beberapa ulama yang mengeluarkan pendapatnya, sebut saja misalnya Ketua MUI Sumut Prof Abdullah Syah pada oke zone

"Foto pre-wedding diharamkan, karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Kalau mau memasang foto di dalam undangan, pasang saja foto masing-masing bukan foto mesra," ujar Prof Abdullah Syah yang baru terpilih pada Desember 2010 lalu.


Atau pendapat cholil Ridwan Ketua MUI berkenaan pengharaman hal yang serupa oleh forum bahtsul masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri sebagaimana dilansir oleh detik com

Pengharaman kegiatan fotografi pra nikah (pre wedding) oleh forum bahtsul masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur ke-12 di Ponpes Lirboyo, Kediri, diamini Ketua Majelis Utama Indonesia (MUI) Cholil Ridwan. Cholil setuju karena hal itu selaras dengan ajaran Islam.

"Kalau dikembalikan ke syariat, saya tidak keberatan atas fatwa itu," ujar Cholil pada detikcom, Jumat (15/1/2010).


Nada serupa juga disampaikan olehAnnisa Trihapsari
"Kalau masalah itu aku setuju. Walaupun aku pernah," ujar Annisa ditemui di acara Autan di Taman Buah Mekarsari, Cibubur, Jawa Barat, Selasa (19/1/2010).

Menurut mantan istri Adjie Pangestu tersebut, kegiatan foto pre wedding bisa mengundang syahwat. Kegiatan pelukan ataupun memegang tangan pun tak disarankan


Mungkin ada yang berpikiran lain, atau ada yang mengajukan pertanyaan : bagaimana kalau fotonya tidak bersentuhan fisik ??

Dalam foto pre wedding yang seperi itu memang ada beberapa pendapat berkenaan hukumnya., dan saya tidak ingin masuk keranah pentarjihan yang mana dianggap paling kuat, dan tulisan ini pun bukan untuk hal tersebut. Secara pribadi bagiku hukum melakukan foto prewedding berada diantara makruh s/d haram, alias tidak sampai jatuh kepada mubah, ini mengingat dari segi mubazir/mahal, dan rentannya fitnah yang ditimbulkan.

Namun ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan bagi yang berpandangan bolehnya foto pre wedding :

Pertama : dari segi pakaian. Pakaian harus sesuai dengan syariat islam. terutama bagi wanita, yang dimaksud menutup aurat bukan saja menutup/membungkus badan saja, tapi harus menutupi lekuk tubuh (longgar), tebal (tidak transparan), tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir, dsbnya.

Kedua : dari segi model/gaya foto, harus menghindari kesan mesra, centil, sexy, mengundang syahwat.

Ketiga : kegiatan pemotretan : harus benar-benar aman dan tidak melanggar adat dan agama. Misalnya pergi berduaan kelokasi pemotretan, pulang berduaan dari lokasi pemotretan.

Kalau kita tunjau dari segi adat, seseorang yang ingin menikah tidak dibenarkan berjumpa sampai sah menjadi suami istri, ini sebenarnya hanya bersifat preventif saja agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Orangtua terdahulu mengistilahkan “anyir” bagi orang yang ingin menikah, yakni rentan terjadi fitnah, rentan terjadi hal-hal yang bisa membatalkan/merusak pernikahan, hal yang sangat sepele sekalipun bisa membuat batal pernikahan. Sebut saja misalnya hanya gara-gara gurauan yang dianggap serius, atau tersinggung calon mertua karena sikap atau ucapan. Saya pernah mendengar batalnya pernikahan disebabkan terjadinya sengketa antara sepupu dari pihak wanita yang ingin menikah dengan abang dari pihak pria, padahal tidak ada hubungan langsung antara yang ingin menikah dan antara keluarga yang ingin menikah.

Dari segi kacamata agama, bepergian wanita dan laki-laki yang bukan mahrom adalah sebuah kesalahan, duduk berdekatan dengan sengaja juga sebuah kesalahan, apa lagi dibumbui dengan aroma wangi yang sangat bisa mengundang syahwat.semua hal tersebut menyebabkan terjadinya zina :

• “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)


• “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).


“Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Sebagai pesan terakhir kutitipkan sebait pantun :

Lauk sudah ulam pun sudah
Tinggal menunggu cuci tangannye
Peluk sudah cium pun sudah
Tinggal menunggu ijab qobulnye.


jadilah suami istri dan kemudian berfotolah, jangan berfoto layaknya suami istri sebelum menjadi suami istri. Bukankah tiap sesuatu itu akan dipertanggungjawabkan kelak diakhirat ? Klik Selengkapnya...

Monday, 30 May 2011

Ada Orang Yang....

Pekanbaru,30 Mei 2011

Ada Orang Yang ......

Ada orang yang tau ia pasti akan mati, namun ia tidak mempersiapkannya.

Ada orang yang tau perbuatannya salah, tapi tidak ada kekuatan untuk memperbaikinya.

Ada orang yang tau apa yang diusahakannya untuk dunia ini hanya sementara, namun ia sibuk sekali dengannya.

Ada orang yang mampu duduk berjam-jam di lapak/kedai kopi, tapi tidak mampu duduk lama di mesjid.

Ada orang yang mampu hafal banyak lirik lagu, tapi tidak mau menghafal ayat quran.

Ada orang yang mewajibkan dirinya membaca koran tiap hari, tapi seperti “makruh” membaca quran tiap hari.

Ada orang yang sangat peduli dengan pelajaran sekolah anak-anaknya, tapi sepele dengan pelajaran agama anak-anaknya.

Ada orang yang tiap hari membaca dan update facebook, tapi enggan membaca update ilmu agama.

Ada orang yang sambil jalan dan berkendaraan melantunkan nyanyian, tapi berat untuk melantunkan zikir.

Ada orang yang mampu fokus berjam-jam menonton televisi, tapi tidak bisa fokus mendengarkan ceramah.

Ada orang yang memilih tempat duduk paling depan menonton bioskop atau konser, tapi duduk paling belakang saat dimesjid.

Ada orang yang suka menyuruh anaknya mengaji, tapi dirinya menonton televisi.

Ada orang yang suka menyuruh anaknya sholat dimesjid, tapi dirinya lebih suka sholat dirumah.

Ada orang yang memakaikan jilbab anaknya yang mau kesekolah, tapi ia memakai celana pendek mengantarkan anaknya kesekolah.

Ada orang yang menyuruh anaknya memiliki rasa malu, tapi bersama-sama nonton film yang ada adegan mesumnya.

Ada orang yang mengajarkan anaknya memiliki rasa malu, tapi membiarkan anak gadisnya memakai celana pendek di dalam dan di luar rumah.

Ada orang yang mengajarkan anaknya menjauhi zina, tapi membiarkan anak gadisnya berkeliaran berdua bersama kekasihnya.
Ada orang yang mampu mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk membeli mobil atau membuat rumah, tapi menganggap tidak mampu mengumpulkan uang untuk menunaikan rukun islam kelima.

Ada orang yang sambil jalan dan berkendaraan sambil mendengarkan nyanyian, tapi berat untuk memutar murottal quran.


Ada orang yang mampu antri dan berpanas-panasan untuk mendapatkan tiket pertandingan sepakbola atau konser artis kesayangan, namun tidak mampu melangkahkan kaki ke mesjid ditengah matahari terik.
Ada orang yang merasa uang 50 ribu rupiah itu besar untuk berinfak, tapi merasa kecil jika dihabiskan sekedar makan bakso atau nasi ramas untuk bersenang-senang dengan teman.

Ada orang yang gara-gara acara wisuda, ditinggalkannya sholatnya.

Ada orang yang gara-gara bersanding dipelaminan sebagai pengantin, ditinggalkan sholatnya.

Ada orang yang gara-gara tidak mau make-up rusak diwajahnya, ditinggalkan sholatnya.

Ada orang yang merasa tidak tenang sholatnya jika kerjaannya belum selesai, tapi bisa tenang mengerjakan kerjaannya sementara ia belum sholat.

Ada orang yang menyibukkan diri untuk mencari ridho manusia tanpa mempedulikan Allah ridho atau tidak.

Ada orang yang mampu menerobos hujan rintik-rintik untuk pergi ke tempat kerja atau sekolah, tapi enggan pergi ke mesjid walau cuaca terang.

Ada orang yang cepat sekali menjawab panggilan bos atau atasannya, tapi santai saja mendengar azan berkumandang.

Ada orang yang mampu bangun malam karena tim sepakbola kesayangannya bertanding, tapi tidak mampu bangun subuh.

Ada orang yang membangun kehidupan dunia-nya dengan menjatuhkan akhiratnya.

Ada orang yang takut hina dikehidupan dunia, tapi tidak takut kehinaan akhirat.

Ada orang yang menjadikan agama sebagai kepentingan untuk menggapai dunia.

Ada orang yang membaca tulisan ini bukan untuk direnungkan sendiri, namun mencari orang lain sebagai sasaran.

Ada orang yang membaca tulisan ini bukan untuk direnungkan sendiri, tapi mencari peluang untuk membalikkan sasaran kepada penulis.

Ada orang yang......

== icun bin abdullah al- riau ==.
Klik Selengkapnya...

Thursday, 5 May 2011

Cara Menolak Kampanye Terselubung di Mesjid

Pekanbaru, 6 Mei 2011

Ada hal menarik ketika aku dan seorang imam mesjid disalah satu mesjid dipekanbaru ini bercerita tentang fenomena kampanye di mesjid yang marak belakangan ini. Tema ini terangkat berkenaan akan berlangsungnya pemilihan orang nomor 1 yang akan memimpin pekanbaru yang akan dilaksanakan bulan mei ini.

Imam mesjid yang juga hafizh quran plus suara yang mirip imam-imam ditanah haram ini bercerita.

Suatu kali beberapa tahun lalu, seorang tamu yang patut untuk diduga kuat sebagai tim sukses dari salah seorang calon yang ingin memperebutkan kursi pimpinan wal amanah rakyat mendatangi imam mesjid ini. Tamu tersebut mengatakan bahwa si fulan(sang calon) ingin menyumbangkan sejumlah uang yang cukup besar kepada mesjid, untuk itu mereka berencana akan membuat suatua acara serah terima di mesjid tersebut. Untuk hal inilah maka tamu itu meminta izin kepada sang imam.

Praktek seperti ini sudah bukan merupakan hal asing di tiap kali akan berlangsungnya pemilihan calon pemangku amanah, baik itu dari legislatif maupun eksekutif. Berdalih akan menyumbang uang dalam jumlah besar kepada mesjid, lantas membuat acara serah terima. Didalam acara tersebut ada kata sambutan dari sang pemberi sumbangan, disaat itu ia ingin menunjukkan “Siapa dia”, menunjukkan kerisauannya terhadap negeri ini, dan tidak jarang tersirat ungkapan yang bernilai negatif terhadap pemimpin yang lama,kemudian diakhir acara dipolesi dengan ceramah agama oleh ustad dan doa bersama agar terkesan agamis nasionalis. Tidak cukup dengan acara seremonial diatas, terkadang juga memberikan kenang-kenangan kepada tiap jemaah yang hadir ketika itu dengan oleh-oleh kecil, baik itu berupa buku yasinan yang pada bagian simpulnya ada gambar sang pemberi uang, atau sekedar kipas lipat yang juga dihiasi gambar-gambar yang ada “petunjuk” agar memilih sang pemberi sumbangan. Tidak jarang juga ada baleho besar yang terpajang sebelum memasuki mesjid dengan tulisan “SELAMAT DATANG FULAN DAN FULAN”, baleho ini sengaja dibiarkan terpajang untuk beberapa hari di area memasuki mesjid.

Ku jadi teringat dengan salah satu adegan ditelevisi yang menyindir gaya kampanye seperti ini. Dimana pada adegan tersebut, setelah sumbangan diberikan kepada mesjid, kemudian sang pemberi sumbangan (dengan gaya yang dibuat-buat agar terkesan menyindir) diwawancarai beberapa wartawan dan mengatakan lebih kurang :
“kami mengundang bapak-bapak dan hadirin disini untuk menyaksikan acara ini bukan bermaksud riya’, karena kami tau lebih baik bersedekah itu sembunyi-sembunyi agar terhidar dari riya, tapi kami ingat ajaran agama yang menjelaskan bahwa siapa yang mencontoh suatu kebaikan, dan kemudian orang-orang mengikutinya, maka baginya pahala orang-orang yang mencontoh tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya. Untuk itulah..., kami harapkan rekan-rekan wartawan untuk mengekspose kegiatan ini seluas-luasnya agar kami mendapat pahala yang banyak ,ya.. ya.. ya..ya ???”

Mungkin yang dimaksud pada adegan tersebut adalah hadist sebagai berikut :


مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017).

Tidak ada masalah dengan hadist tersebut, namun menjadi masalah jika salah dalam penempatan dan pemahaman, apa lagi jelas sekali ada indikator lain yang mendorong orang tersebut melakukan hal tersebut.
Sama saja kasusnya jika ada orang yang menjadi peminta-minta sedekah mengeluarkan dalil-dalil atau hadist tentang keutamaan sedekah kepada orang yang ingin dimintai sedekahnya, tentunya hal ini adalah salah dalam penempatan hadist, bahkan sangat tidak layak menggunakan hadist keutamaan sedekah bagi orang peminta-minta.
Begitu juga hal nya bagi calon kandidat pemangku amanah rakyat ini, sungguh sangat tidak layak mereka menggunakan dalil dari hadist diatas untuk mengkampanyekan diri mereka.

Kembali kepada cerita semula...
Setelah panjang lebar tamu tersebut bercerita dan membujuk agar “jagoannya” dapat menjadi penyumbang dana di mesjid tersebut, maka dengan sopan dan elegan sang imam tersebut menjawab dengan jawaban yang “sangat jarang ditemui” pada mesjid-mesjid lain. Karena biasanya, para pengurus mesjid justru sangat antusias mengambil kesempatan di saat-saat seperti ini agar mesjidnya didatangi. Pengurus mesjid tidak peduli kecuali hanya 1 hal, yakni “sumbangan uang kepada mesjid”. Soal dari mana datang duitnya, ikhlaskah sang pemberi dana, apa motif tersembunyi dibalik pemberian dana, bagaimana nanti menjawab diakhirat tentang dana mesjid ini, pengurus mesjid sengaja menutup mata dan hati nya. Padahal sering kita dengar sepenggal hadist yang mengatakan : "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu." (HR Bukhari dan Muslim).

Sang imam itu berkata :

“ Saya sangat senang jika ada yang ingin menyumbang sejumlah dana pada mesjid dikampung ini, apa lagi mesjid ini memang masih memerlukan dana untuk pembangunan. Tapi ada hal lain yang menjadi pertimbangan yang menghalangi saya selaku yang diamanahkan sebagai imam di mesjid ini.

Pertama, dalam waktu dekat ini si fulan yang anda maksudkan itu dalam hitungan hari lagi akan ikut bertarung dalam pemilihan dikota ini, saya tidak menuduh bahwa si fulan itu bermaksud lain atau tidak ikhlas karena Allah ketika menyumbang dana kemesjid kami, tapi menyumbang disaat-saat seperti ini sangat rawan akan fitnah. Mungkin maksud si fulan itu ikhlas semata karena Allah, tapi masyarakat belum tentu menilai seperti itu.

Dan yang kedua, selain fitnah akan terjadi kepada anda dan sifulan, fitnah ini juga akan akan menimpa saya juga, karena masyarakat mungkin akan menganggap saya telah mendukung atau ikut menjadi salah satu tim sukses dari sifulan, sementara masyarakat disini belum tentu 100% menyukai si fulan, hal ini akan menyebabkan rusaknya persaudaraan di tengah masyarakat dan kepercayaan masyarakat di kampung ini kepada saya.

Saya punya solusi yang baik agar “niat baik dan mulia” dari anda dan fulan terlaksana dengan aman, kita tunda saja sampai hari pemilihan yang hanya dalam hitungan jari ini. Begitu pagi harinya pemilihan, maka malamnya kita adakan acara penyerahan sumbangan. Pada malam itu, jangankan 10 juta rupiah, satu goni/karung pun kami terima dengan lapang.”

Wal hasil.., kesepakatan atau hajat tamu pada malam itu tidak tercapai, dan ternyata setelah pemilihan berlangsung, sepertinya si fulan lupa akan “niat baik dan mulia” nya tersebut.
==============================================
Artikel terkait wal serupa Aduhai.. dirimu Wahai Caleg
Klik Selengkapnya...