Wednesday, 1 September 2010

Jangan Tolak Jodohmu Ya Ukhti..,

Pekanbaru, 22 Romadhon 1431H (1 September 2010)

Buat akhwat yang ragu dalam menentukan pilihan...

Suatu kali, entah kenapa, tak ada pangkalnya, tiba tiba saja, cerita ini bermula dari terdamparnya seorang wanita di sebuah pulau kecil dan terpencil ditengah-tengah lautan. Sang wanita merasa gundah akan kesendiriannya disana. Tidak hanya gundah, tapi juga cemas dan takut selalu menghantuinya. Sebenarnya bukan karena ketakutan terhadap adanya musuh layaknya binatang buas seperti di film film, atau karena adanya jin gentayangan yang mengganggunya,tapi ketakutan, kecemasan dan kegundahan wanita ini berkenaan dengan pengharapan besar akan adanya seseorang yang akan menyelamatkannya dari kesendiriannya di pulau kecil dan terpencil tersebut.

Hampir tiap malam ia munajat kepada Allah agar disegerakan hadirnya seseorang dalam hidupnya yang akan menyelamatkannya dari pulau kecil dan terpencil itu. Dalam munajatnya ia menangis terisak-isak dengan penuh harap akan dikabulkan dan penuh takut akan tertolakkan.

Suatu hari seperinya secara kebetulan..
Seorang nelayan dengan kapal pompong singgah dan menemukan wanita itu. Sang nelayan bersedia untuk membawanya pergi dari kesendirian di pulau kecil dan terpencil itu. Namun sang wanita masih merasa ragu akan niat baik sang nelayan. Ia merasa belum kenal baik orang baru yang menemukannya itu, dalam hati sang wanita “saya butuh waktu untuk mengenal kepribadianmu, apakah kamu orang baik baik atau tidak”. Kemudian sang nelayan pergi meninggalkan wanita tersebut dalam keadaan wanita tersebut masih ragu-ragu terhadapnya. Malam-malam berikutnya sang wanita tidak henti-hentinya bermunajat kepada Allah dengan isi munajat yang sama, dengan perasaan harap dan takut yang sama.

Suatu hari sepertinya secara kebetulan...
Datang seorang penerjun payung dan mendarat terjun kepulau tersebut dan menemukan wanita itu. Sang penerjun payung bersedia membawa wanita tersebut pergi dari kesendiriannya di pulau kecil dan terpencil itu. Namun sekali lagi sang wanita merasa ragu untuk menerima kebaikan sang penerjun payung tersebut. Keraguan yang sama sebagaimana ketika datangnya nelayan kepadanya. Sang penerjun kemudian meninggalkan wanita tersebut dalam keadaan wanita tersebut masih ragu-ragu terhadapnya.

Waktu terus berlalu dengan cepat.., sang wanita tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar adanya seseorang yang akan menyelamatkannya dari kesendirian di pulau kecil dan terpecil tersebut. Seiring itu pula sudah ada beberapa orang yang sepertinya datang secara kebetulan untuk menyelamatkan sang wanita. Namun sang wanita masih selalu saja merasa ragu-ragu.

Tiba-tiba saja,, entah kenapa.., cerita ini hanya sampai disini saja, tidak ada ujungnya.., huhh.. sangat mengesalkan tulisanmu kali ini icun... sudahlah diawalnya tidak ada pangkal cerita, diujungnya pun tidak tau akhir dari kisah ini.., sebelum kami muak dengan semua ini.. cepat katakan apa yang ingin anda sampaikan...!!

=============
sabar.. sabar... Cerita diatas hanya sebagai sebuah tamsilan saja.. ada beberapa hal yang dapat di petik dari kisah diatas.

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak wanita-wanita yang baik agamanya yang belum berhasil menemukan jodohnya. Tidak jarang kita perhatikan wanita-wanita sholehah yang sudah berumur sekitaran umur 27-33 tahun masih dalam kesendirian. Padahal secara fisik wanita wanita tersebut tergolong cantik menengah keatas. Ia merasa jodoh untuk dirinya belum juga tiba. Walaupun ia sudah bersungguh sungguh bermunajat kepada Allah, namun ia merasa Allah belum kabulkan permintaannya, ia merasa jodohnya masih Allah rahasiakan dari dirinya. Ketika kita tanyakan apa yang menjadi standar ia memilih calon pendamping, maka jawaban yang sangat umum akan dilontarkannya, yakni “yang penting ia beragama dan berakhlak yang baik”.

Artikel ini mencoba mengangkat sisi berbeda dari apa yang dirasakan oleh para wanita sholehah yang masih sendirian. Perasaan wanita yang merasa jodohnya belum juga hadir itu tidak 100% benar. Ucapan wanita-wanita yang masih sendiri yang berkata : “Belum ketemu jodoh” , atau “Allah belum kabulkan doaku”, atau “Allah masih rahasiakan jodohku” tidak 100 % benar. Karena sangat bisa jadi pada dasarnya Allah telah ketemukan ia dengan jodoh untuknya, Allah sudah kabulkan doanya, Allah sudah tunjukkan jodoh untuknya. Namun yang terjadi adalah ia tolak jodoh yang Allah berikan untuknya, ia ragu tentang jodohnya sendiri, ia bimbang menerima pemberian Allah untuknya.

Dengan kalimat tegas ku katakan bahwa “wanita-wanita sholehah itu ragu akan doanya sendiri”. Ia berdoa namun ia ragu akan doanya, ia meminta kepada Allah dengan pengharapan dan rasa takut yang besar, namun ketika Allah kabulkan doanya justru ia merasa bahwa yang datang kepadanya bukan dari wujud doanya. Layaknya wanita yang terdampar dipulau kecil dan terpencil dalam tamsilan diatas, sebenarnya doanya sudah beberapa kali dikabulkan Allah. Ketika ia berdoa agar Allah mendatangkan “seseorang” yang akan menyelamatkannya, maka Allah kirimkan seorang nelayan untuknya, kemudian ia ragu dan tolak nelayan tersebut. Kemudian ia berdoa lagi dan Allah kirimkan penerjun payung, kemudian ia ragu dan menolak sang penerjun payung.

Sebenarnya, kalau wanita-wanita tersebut benar-benar berprinsip “yang penting baik agamanya dan baik akhlaknya”, maka ku sangat yakin standar tersebut banyak yang memilikinya dan mudah didapat. Permasalahannya adalah ia tidak komitmen terhadap apa yang ia standarkan untuknya. Secara tegas ku katakan wanita-wanita tersebut tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia hanya berhayal akan seseorang yang akan menjadi jodohnya, namun ia tidak bisa menunjukkan wujud konkrit atau asli seseorang yang ia inginkan. Ia tidak mempunyai gambaran asli dari kalimat abstrak “yang penting baik agamanya dan baik akhlaknya” tersebut. Layaknya wanita yang terdampar di pulau kecil dan terpencil dalam tamsilan diatas, ia tidak mempunyai gambaran seperti apa “seseorang yang akan menyelamatkan” nya. Ketika ia berdoa dengan kalimat “seseorang”, maka Allah kirimkan sesosok nelayan, kemudian ia tolak sang nelayan. Kemudian ia berdoa lagi dan Allah kirimkan penerjun payung, dan ia tolak sang penerjun payung. Bukankah nelayan dan penerjun payung merupakan wujud nyata dari kalimat “seseorang” ??. Mustahil Allah mengirimkan “seseorang” tanpa wujud nyata, dan ini yang kurang disadari sang wanita tersebut.


TERJEBAK DENGAN CHEMISTRY.

Beberapa wanita yang baik-baik yang masih sendiri berkata "bagaimana saya gak ragu atau menolaknya, ku gak dapat chemistry saat ta'aruf"

Sebenarnya ku kurang paham juga pengertian sesungguhnya dari kata “chemistry” itu sendirim, apa lagi di kaitkan dengan istilah kimia. Tapi dari beberapa kalimat yang menggunakan kata chemistry, maka ku bisa tarik pengertian bahwa chemistry itu adalah sesuatu yang dirasakan secara tidak dibuat-buat saat pertama kali jumpa atau mungkin isilah yang populer dahulunya adalah “kesan pada perjumpaan pertama”. Ada juga yang mengartikan chemistry adalah lust in disguise ( hasrat/nafsu yang tersembunyi). Jika memang mirip seperti itu arti dari chemistry, maka ada beberapa hal yang berkaitan dengan chemistry :

  1. Chemistry berasal dari pemikiran/otak yang merangsang hasrat untuk lebih dari sekedar apa yang terjadi saat itu, sehingga menimbulkan khayalan akan sebuah kebahagian yang abstrak didalam angan.
  2. Chemistry tidak membutuhkan pengorbanan layaknya hakikat dari cinta.>
  3. Chemistry hanya berlaku pada awal jumpa, sehingga ia tidak akan kekal dalam hubungan.
  4. Chemistry tidak bisa dijadikan tolak ukur harmonis atau tidaknya dalam menjalin sebuah hubungan.


Pertamanya kemudian adalah Pentingkah sebuah chemistry ???

Bagiku chemistry tidak begitu penting dalam menjalankan sebuah hubungan. Karena hubungan tidak akan kekal dengan chemistry, chemistry juga tidak memiliki peranan apapun dalam menjaga sebuah hubungan. Kalau kita perhatikan orang-orang tua kita dahulu, nenek-nenek kita dahulu, hubungan mereka bisa langgeng dan bertahan sampai tutup usia, padahal kebanyakan mereka hanya bermodal dijodohkan. Sebaliknya banyak sekali kita jumpai saat ini kasus perceraian, bahkan usia pacarannya (hubungan sebelum nikah) lebih panjang dari usia perkahwinannya sendiri ( usia pacaran sampai 9 tahun, usia pernikahannya hanya beberapa tahun saja, bahkan ada yang hitungan bulan). Bukankah dunia para pelaku pacaran itu dikarenakan adanya chemistry ?? Ini bukti bahwa chemistry adalah sesuatu yang tidak bisa dijadikan pegangan.

YANG ANDA BUTUHKAN ITU ADALAH HAKIKAT SEBUAH CINTA.

Cinta atau mahabbah atau kasih sayang adalah sesuatu yang fitrah. Cinta sifatnya fluktuatif (bisa kadarnya bertambah, bisa berkurang, bisa hilang). Cinta itu penting, menjaga cinta itu jauh lebih penting. Cinta itu bisa diusahakan. Banyak perkahwinan yang diawali dengan cinta, namun karena tidak mampu mempertahankannya sehingga putus ditengah jalan. Ada juga perkahwinan yang tidak didasari cinta, namun karena mampu menanam benih dan menjaganya, maka cinta diantara keduanya tumbuh dan semakin bersemi. ini mirip penggalan sebuah bait lagu :

"aku bisa membuat mu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta..."

Cinta datangnya dengan pengorbanan. Cinta berbanding lurus dengan pengorbanan. Semakin banyak kita berkorban terhadap sesuatu, semakin tumbuh besar rasa cinta itu. Orang-orang yang bersungguh-sungguh terhadap agamanya, maka ia rela mati untuk agamanya, orang yang tidak ada pengorbanan terhadap agamanya, maka ia akan takut mati untuk agamanya. Cinta harus diikat dengan ketaatan kepada Allah. Tidak ada kata cinta untuk melakukan sesuatu yang melanggar syariat Allah. Mencintai sesuatu karena Allah, Membenci sesuatu juga harus karena Allah.

Sebagai simpulan, sebenarnya permasalahan dikebanyakan wanita-wanita sholehah yang sudah berumur dan masih bersendirian itu bukan terletak pada tidak adanya yang menginginkannya, juga bukan karena doanya yang tidak dikabulkan, bukan juga Allah masih rahasiakan jodohnya. Permasalahan sesungguhnya berada pada diri wanita itu sendiri. Ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya yang ia inginkan. Ia tidak berani mengambil keputusan dari tiap “seseorang” yang Allah hadirkan untuknya.
Ketika anda telah menyerahkan sepenuhnya jodohmu kepada Allah, kenapa kemudian anda tolak jodoh tersebut ??

Ya ukhti.. Tanyakan didalam lubuk hati yang paling dalam : Sebenarnya apa yang anda inginkan ??

Wahai bunga.. begitu banyak Allah giring kumbang untukmu, sebagaimana doa yang kamu panjatkan, namun kamu tolak semuanya.. apakah kamu menunggu sampai tidak adanya kumbang lagi yang menghampirimu karena mulai layunya dirimu ??

== icun bin abdullah ==

Comments
14 Comments

14 comments:

  1. jadi seharusnya berdoa seperti apa..
    ketidakmantapan hati untuk memutuskan dan menolak jodoh apakah hal yang sama..?sebab siapa tahu penolakan wanita itu karena tidak adanya kemantapan hati (tentunya setelah istikharah)

    ReplyDelete
  2. @annisa : trima kasih atas kunjungannya dan selamat hari raya.. :)

    pertanyaan ukhti ku awali menjawabnya dengan pertanyaan :
    "seperti apa sebuah kemantapan hati setelah istikharah"? apakah yang dimaksud kemantapan hati itu adalah tidak adanya keraguan apapun??. kalau seperti itu defenisinya, maka bisa ku pastikan hampir tidak ada yang masuk kedalam defenisi tersebut. Karena kita tidak bisa sampai tahap "kemantapan hati" dengan hanya dalam waktu yang tidak begitu lama, dengan interaksi yang masih dibatasi syariat, dan dengan data yang begitu minim.

    Bagiku kemantapan hati itu tidak datang begitu saja lewat istikhrah, kemantapan hati itu dipengaruhi juga oleh hasil interaksi, standar yang di inginkan, serta kemantapan diri untuk siap menikah.

    satu hal yang perlu diingat bahwa, syaithon teramat sangat berusaha untuk menanamkan keraguan atau was was. salah satu yang menyebabkan syaithon sangat marah dan kesal adalah telah dihalalkan apa-apa yang sebelumnya diharamkan melalui proses ijab qobul. maka itu syaithon berusaha untuk menanamkan rasa was was dan membisikkan keraguan kedalam hati dengan harapan tidak terjadinya sebuah pernikahan.

    satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa jawaban sebuah doa itu tidak harus sebagaimana yang kita inginkan. ketika kita minta dengan sungguh sungguh kepada Allah, dengan penyerahan diri seutuhnya kepada Allah, maka Allah akan datangkan yang terbaik untuk kita. dan yang terbaik untuk kita itu belum tentu menurut perasaan kita baik, dan buruk menurut kita belum tentu itu yang buruk menurut Allah.

    Mungkin ukhti pernah baca novel "pudarnya pesona cleopatra". salah satu pembelajaran di novel tersebut adalah apa yang selama ini ia agungkan (pesona cantiknya wajah2 orang mesir), bisa dalam sekejap sirna, dan dalam sekejap itu juga perasaan yang luar biasa muncul terhadap istrinya yang selama ini tidak ia anggap.

    ku ceritakan sedikit kisah seorang akhwat yang ku kenal. suatu hari ia katakan kepadaku bahwa ia telah menerima lamaran seseorang dengan perasaan kesal. ketika ku tanyakan hal ihwalnya, ia katakan ia telah didesak desak oleh keluarga dan teman2 sepengajian dengannya, oleh karena kali ini sudah untuk kesekian kalinya mereka menyodorkan calon suami untuknya, jadi ia menyetujuinya disebabkan kekesalannya terhadap keluarga dan teman2nya. singkat cerita akhirnya mereka menikah, dan alhamdulillah setelah sekian tahun, informasi terakhir ku dengar ia telah memiliki anak, dan dari SMS nya terlihat kehidupannya sakinah dan mawaddah.

    = = = = = = = = =
    @untuk para akhwat :
    ya ukhti .., jawaban seperti apa lagi yang anda inginkan dari Allah..
    apakah datangnya seseorang yang ingin melamar dengan membawa surat rekomendasi dari Allah ?? atau dengan mimpi yang mengabarkan kepada anda tentang calon dari Allah ??

    == icun bin abdullah ==

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum
    Terima kasih atas penulisan yang sangat baik
    Mohon maaf atas bahasa penulisan yg agak berlainan kerana saya berasal dari negara Malaysia. Saya telah bertemu dgn seorang yg baik agama dan latarbelakang keluarganya, dan setelah proses kenalan dan saling soal jawab soalan taaruf, saya masih tidak merasakan keserasian, namun saya tetap menerima lamarannya, kemudian ketika hendak menetapkan tanggal pertunangan /pernikahan, hati saya menjadi ragu-ragu, dan saya memberitahu kpd calon zauj saya tidak mahu meneruskan kerana saya berasa kami tidak ada keserasian. Namun kami memberi masa utk diri masing2 meneruskan istikharah dan doa.Sekarang saya berasa yakin ini adalah godaan syaitan. Sepatutnya saya harus yakin dan redha dgn ketentuan Allah.
    Terima kasih atas perkongsian :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wlkmslm.., terima kasih atas perkongsiannya..,
      mudah2an menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah.. :)

      Delete
    2. Assalamu 'Alaikum ustadz...

      Saya mau tanya,, saya sedang suka dengan teman kerja,, dan dia pun merespon dan kami sepakat untuk bertaaruf,, Setelah sekitar 2 bln bertaaruf dia mnuntut saya utk cpat2 mnikah,, tadinya saya bngung dan ragu karna saya blum pnya cukup dana utk mnikah,, ttapi setelah saya tanya ibu saya dan tman2 serta saya baca2 artikel ttng pernikahan serta mndengar ceramah2 dan juga sholat istikhoroh dan sholat hajat akhirnya saya yakin dan siap utk menikahinya,,

      Tetapi ketika saya minta izin utk melamarnya,, si wanita ini ternyata ada keraguan di hatinya dan dia mnta waktu kpda saya utk beristikhoroh dan tdk berkomunikasi dgnnya selama kurang lebih 7 hari,, dan ketika 7 hari berlalu dya sms saya sperti ini:

      " Assalammu'alaikum.. maaf mas , setelah bbrp bln kita kenal memng nyambung saat sharing,,lalu saya mencoba tuk menerima mas tapi mohon maaf makin diyakini malah sulit untuk bisa menerima mas karna begitu besar keraguan dihati saya ,, sprt anjuran Rasululloh saw, bahwa jika ada keraguan maka kita harus meninggalkannya.. trma ksih atas maaf dan pengertiannya..

      Mohan bantuannya ustadz padahal saya sudah yakin dan ingin menikahinya,, apakah seprti itu pengertian dr hadits yg dia sebutkan itu ustadz? dan bagaimana yg harus saya lakukan,,?

      Syukron ustadz.

      Wassalamu 'Alaikum

      Delete
    3. @sigit ; wa'alaikum salam.
      memang benar kita dianjurkan meninggalkan sesuatu yang diragukan, sering dianggap hal yang meragukan itu sesuatu yang syubhat.
      Namun perlu juga diketahui bahwa rasa was-was itu datang dari syaithon, dan syaiton punya "kepentingan yang besar" untuk menggagalkan sebuah pernikahan, karena dengan pernikahan, yang dahulunya haram menjadi halal, bahkan berpahala.

      Saran : sebaiknya biarkan saja kondisi dan hubungan anda dan dia seperti biasa, seolah tidak ada kejadian, seolah hanya sekedar "pending" proses aja, karena keraguan dia juga tidak bersifat final, karena hati itu sifatnya bolak balik. Beberapa kasus juga seperti itu, wanitanya ragu-ragu atau was-was, kemudian memutuskan utk menolak, ternyata setelah diputuskan baru merasa kehilangan, trus akhirnya "bersedia utk dinikahkan"... :)

      Delete
  4. masyallah..

    terimakasih banyak atas pencerahanya, saya sudah mencerna dengan baik inshallah saya semakin memantapkan hati saya..
    terimakasih ya akhi..

    ReplyDelete
  5. Subhanalloh....tulisan anda Sangat berarti, mmberikan smangat baru

    ReplyDelete
  6. jazakallah artikelnya... barakallahufik

    ReplyDelete
  7. sama-sama.., moga Allah mudahkan segala urusan kita.. amiin

    ReplyDelete
  8. Assalamu'alaykum akhi,, bagaimana jika critanya laki2 A ta'aruf,dan di sela2 ta'aruf ada laki2 B ingin nadhor, bukankah wanita harus fokus pada laki2 A akhi? kemudian wanita meminta kepastian akan ta'arufnya, namun si laki2 A menolak untuk melanjutkan akhi, lalu ada laki2 C datang juga di sela2 ta'aruf dan pdkt namun beda keyakinan/organisasi, boleh kan,, kalau ditolak akhi, kemudian si wanita fokus nadhor ke laki2 B, ternyata laki2 B membatalkan nadhornya, kalau kasusnya seperti ini, apa wanita tetep dikatakan jangan tolak jodoh mu yaa ukhty? :),,

    ReplyDelete
  9. Assalamu'alaikum ustadz...
    Saat ini saya merasakan keraguan yg amat sgt untuk menerima atw menolak seseorang. Kami baru saja ta'aruf, laki-lakinya sdh sgt yakin dgn saya. Awalnya saya pun yakin dgn dia. Namun semakin kesini hati saya bimbang tak karuan. Saya blm th betul bgmn dia. Saya jg tdk menaruh rasa kpd dia, sdikitpun. Orang tua sih sdh cocok. Namun saya khawatir salah dlm melangkah ustadz. Apakah betul dy jodoh terbaik yg Allah kirimkan untuk saya. Dan berbagai pertanyaan muncul di benak saya & itu sgt mengganggu.
    Mohon pencerahannya ustadz. Terimakasih

    ReplyDelete
  10. terimakasih tulisannya sangat inspiratif..karena sy merasakan hal ddmikian. sy menginginkan sosok A sbg suami tp tidak berjalan mulus..sampai akhirnya sodara menjodohkan dg seseorang yg mapan dan hanif tp entah knp blm yakin...tkt menerima karena ingin enak nya aja (tidak usah bekerja dan materi terpenuhi) tkt nya sy tidak bs menjalankan kewajiban sbg istri nanti. mohon pecerahannya :)

    ReplyDelete