Jumat, 24 Januari 2014

Lampu Merah

Lampu merah pun menyala, terlihat seorang lelaki tua menawarkan koran kepada seorang bapak yang duduk di dalam mobil cantik. Terlihat wajah lelaki tua tersebut begitu cerah, senyumnya pun sumringah, seolah tanpa beban,  walau hanya mengenakan topi yang lusuh dan pakaian yang buram warnanya. 

Terlihat dari balik jendela mobil yang bening, pakaian dan rambutnya sangat cerah dan rapi, namun bapak yang duduk di mobil cantik tersebut tidak mampu menutupi  wajah kusutnya, tatapan hanya fokus pada lampu merah, senyum hambar ia berikan kepada lelaki tua yang menawarkan koran tanda ia tidak berminat untuk membelinya, mungkin ia punya setumpuk pekerjaan yang menanti, atau ada beban lain yang menyelimuti.

Bahagia itu di hati.., bukan pada apa yang kita miliki.
Kesenangan mungkin bisa dibeli, tapi ketenangan datangnya dalam diri.
Gumamku…

Lampu Merah

Kenapa orang sering menyebutnya “lampu merah”, bukankah masih ada dua warna lainnya, kuning dan hijau?. Mungkin karena warna merah lebih dominan dibanding yang lain, atau lampu merah terletak paling atas dibanding dua lampu lainnya, atau warna merah lebih lama hidupnya dibanding yang lain.

Secara psikologi mungkin lampu merah merupakan satu-satunya lampu yang membuat orang kesal, lampu yang tidak diinginkan keberadaan hidupnya, sehingga lebih melekat dihati. “Uhh.. kena lampu merah pulak ni, padahal mau cepat…” gumam dalam hati.

 Hmmm… itulah kita manusia, sering melihat apa yang kita kesalkan, lebih lekat dihati apa yang tidak kita sukai, sehingga hal-hal tersebut lebih sering ditonjolkan ketika berbicara. Padahal masih ada dua lampu yang kita sukai akan keberadaan hidupnya, namun lenyap tenggelam dalam pembicaraan.


nb : Inspirasi lampu merah di pertigaan kota panam pagi ini … Pekanbaru, 25 Januari 2014

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Jumat, 07 Desember 2012

Adab Terhadap Sahabat Rosulullah


Ada satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan, yakni bahwa pada zaman  yang serba bebas ini dimana  saja kaum muslimin berada,  banyak dijumpai ketidakpedulian terhadap  agama dan kebebasam dalam bertingkah laku. Maka didalam masalah ini, para sahabat r.a yang mempunyai hak untuk dihormati dan dimuliakan, tetapi sebagian besar kaum muslimin telah mengabaikan adab dan sopan santun terhadap mereka. Bahkan sebagian orang  yang tidak mempedulikan agama telah berani mencaci maki para sahabat r.a. padahal para sahabat  adalah pondasi dalam agama islam. Merekalah yang mula mula menyebarkan agama islam. Untuk menyempurnakan hak mereka, ALLAH subhanahu wata’ala dengan inayah-Nya mencucurkan berjuta-juta  rahmat kepada jiwa-jiwa suci para sahabat r.a. karena mereka telah belajar agama langsung dari Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam kemudian menyampaikan pelajaran yang telah diperoleh kepada kita.

Qadhi ‘iyyadh r.a berkata “termasuk kewajiban kita dalam menghormari dan memuliakan  Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah menghormati dan memuliakan para sahabat r.a, yaitu dengan menunaikan hak-hak mereka, mengikuti jejak langkah mereka, memuji kebaikan mereka, memintakan istighfar dan ampunan untuk mereka, menutupi segala debat dan pertengkaran yang terjadi antara mereka,  menolak dan memerangi para ahli tarikh palsu,  kaum syiah, dan para perawi yang jahil yang telah memberitakan dan menyebarkan kekurangan dan kelemahan para sahabat r.a,. 

Seandainya terdengar kisah atau berita yang agak bertentangan dengan kebaikan mereka, hendaknya ditakwilkan dengan kebaikan, dan kita ambil kesimpulan dan maksud yang benar dari berita tersebut. Inilah hak mereka, hendaknya jangan sekali kali mengingat keburukan yang ada pada diri mereka. Tetapi hendaknya kita selalu menerangkan dan menyebarkan kebaikan dan keutamaan mereka. Apabila ada yang membicarakan aib dan keburukan mereka,  hendaklah kita berdiam diri, sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam, ‘ Jika kalian mendengar seseorang membicarkan keburukan sahabatku, maka berdiam dirilah’. Ayat al-Qur’an dan hadist telah banyak  membicarakan tentang kedudukan dan keutamaan para sahabat r.a
……………………………………..
Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshor, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, ALLAH ridho kepada mereka, dan mereka pun ridho kepada ALLAH. ALLAH menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai sungai dibawahnya. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar ( At-taubah: 100)”

Diambil dari kitab “hikayatusshohabah , maulana muhammad zakariyya al kandahlawi).
Klik Selengkapnya...

Selasa, 22 Mei 2012

Tersadar Aku

Padang, 22 Mei 2012












TERSADAR AKU

Bertingkah bagai cantik.
Menghujam mata menatap tanpa kedip.
 Merayu tertawa, berhura di padang yang sempit.
Hiraukan tidak batas dan garis.

Tanpa sadar...
Deretan angka tlah menghiasi usia.
Keriput raut hadir tanpa bicara.
Ingatan hanya tinggal bagian sejuta cerita.
Angan pun mulai memudar warna

 Tertipu...
Berlayar sudah di ujung waktu
Bekal ringan bagai lapisan debu
Harapkan sangat berulang lalu
Memutar haluan menuju yang Satu.

Tersadar...
Pejagal menunggu perintah Sang Raja
Harapan tinggal ucapan tanpa makna
Hilang...
Lenyap semua asa...
Terkubur bersama nafas akhir yang tersisa
Rembes air mengalir perlahan di pinggir mata.
Berdetak hati berkata :
sia sia...


 == icun bin abdullah == Klik Selengkapnya...

Minggu, 06 Mei 2012

Mencicipi Garam Sebelum Makan

Pekanbaru, 6 Mei 2012

Beberapa bulan yang lalu dengan dalih bertanya, seseorang berusaha mencari kelemahan tentang amalan mencicipi garam yang dilajimkan oleh teman-teman ahli dakwah sebelum makan. waktu itu saya menjawab dengan "apa yang saya pernah dengar", tanpa menambah dan mengurangi. Dan ternyata sang penanya menganggap bahwa saya telah berdusta atas nama sahabat nabi ketika diri ini tidak dapat menunjukkan dari dari mana dalilnya bahwa hal itu datangnya dari sahabat Ali ra.

Kemudian saya coba menanyakan perkara ini kepada seorang utsadz yang tinggal dekat wilayah kami. Ia mengatakan pernah membaca hal tersebut, tapi sudah lupa dimana ia membacanya. Dan beberapa hari kemudian ia masih merasa kerepotan mengingat-ingat kembali di kitab mana ia menemukan rujukan permasalahan ini.

Selain ustadz tersebut, saya juga bertanya kepada ustadz muhksin yang kami sama-sama aktif di forum hidayatullah.com (sekarang forum tersebut sudah tutup). wal hasil, ditengah kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk mencari beberapa dalil berkenaan garam. Berikut ini saya tampilkan pesan/message dari ustdz mukhsin ke inbox pribadi saya di myquran.org. Ia menjelaskan perkara ini secara singkat. mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, amiin :

'alaikumsalam

untuk soal cicip garam memang telah warid di beberapa riwayat,,namun biasanya sumber pengambilannya tidak dijelaskan rinci, namun sekedar membagi apa yang saya ketahui terhadap fadhilah mencicip garam ini,,saya akan berikan sumber pengambilannya sbb :

Dalam syu’bul iman pada nomor 1150

أخبرنا أبو طاهر الفقيه أنا أبو بكر القطان ثنا أحمد بن يوسف ثنا محمد بن يوسف قال : ذكر سفيان عن عمرو بن ميمون عن طاوس قال يكفي الصدق من الدعاء كما يكفي الطعام من الملح

telah mengkhabarkan Abu Thahir Al-Faqhih mengkhabarkan Abu Bakr Al-Qatthan mengkhabarkan Ahmad bin Yusuf mengkhabarkan Muhammad bin Yusuf berkata ia : mengucapkan akan Sufyan daripada Amru bin Maimun daripada Thawus berkata ia : "adalah kebaikan dalam berdoa begitu juga adalah kebaikan dalam makan (makanan) terletak pada garam"
Hadit ini juga dikeluarkan oleh .... Ibn Abi Syaibah dalam Musnadnya pada 7/40 daripada Shabat Abu Dzar dan juga dalam Syu'bul Iman 2/53-54 daripada Sahabat Muhammad bin Wasi'

dan juga seperti apa yang termaktub dalam Sunan Ibn Majah, hadit Marfu' pada bab khusus Garam nomor 3315

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ أَبِي عِيسَى ، عَنْ رَجُلٍ ، أُرَاهُ مُوسَى ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : سَيِّدُ إِدَامِكُمُ الْمِلْحُ.


telah mengkhabarkan Hisyam bin Ammar telah mengkhabarkan Marwan bin Mu'awiyyah telah mengkhabarkan 'Isa bin abi 'isa daripada seorang lelaki (Musa) daripada Anas bin Malik berkata ia telah berkata Rasulullah SWA : "Penghulu dari segala kuah adalah Garam"

hadit ini juga termaktub dalam Musnad Abi Ya'la 3714, Mu'jam Ibnl 'Arabi 2254, Mu'jam Al-Awsath lil Baihaqy 8854, Musnad Syihab 1327 dan lain lagi,,

untuk derajat nya ialah Dhaif, namun Dhaif yang maqbul, dalam artian boleh ianya diamalkan sebagai FaDhailul A'mal

sedangkan amalan Sahabat 'Ali Radiallahu 'anhu terhadap cicip garam ini, termaktub dalam kitab Syu'bul Imam lil Imam Baihaqiy pada nomor  5952 sbb :

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا الحسن بن علي بن عفان ثنا زيد بن الحباب ثنا عيسى بن الأشعث عن جويبر عن الضحاك عن النزال بن سبرة عن علي أنه قال من ابتدأ غداءه بالملح أذهب عنه سبعين نوعا من البلاء


telah mengkhabarkan Abu Abdillah al-Hafidz telah menceritakan Abul Abbas Muhammad bin Ya'qub telah menceritakan Hasan bin Ali bin Affan telah mengkhabarkan Zaid bin Habab telah mengkhabarkan Isa bin As'at daripada Zuibar daripada Dhahhak dari An-nuzul bin Syirah dari Imam Ali sesungguhnya menyatakan ia

"Barangsiapa makan dimulai dengan garam, Allah akan menghilangkan tujuh puluh jenis penyakit dari dirinya"
derajat hadit juga Dha'if, namun ianya juga maqbul bisa diamalkan untuk penggerak dalam beramal,,

sekedar demikian,,mohon maaf bila kurang memadai,,karena keterbatasan keilmuan saya,,

wallahu a'lam

Klik Selengkapnya...

Selasa, 01 Mei 2012

Dari Misionaris Ke Mujahid Islam

Kisah Islamnya Ibrahim Sily.

Dahulunya ia khuruj (bepergian) dari kampung ke kampung untuk menyebarkan agama nasrani, sekarang ia juga khuruj dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dalam usaha dakwah dan tabligh.

Kali ini diriku benar-benar mengutip mentah-mentah salah satu kisah yang saya baca dari sebuah buku kumpulan kisah-kisah muallaf.


Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi penyemangat bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dan malang melintang dalam perjuangan usaha dakwah dan tabligh ini. Dan mudah-mudahan kisah ini bisa membuat para pencela, pendengki, dan pemfitnah usaha dakwah dan tablgih ini untuk menahan lidahnya dan mengoreksi kembali kepahaman mereka, sehingga lebih bisa beradab dan tidak asal taqlid terhadap fatwa-fatwa ulama dan perkataan-perkataan asatidz mereka. berikut kutipan ksiahnya :

****
Mungkin kisah ini terasa aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau melihat langsung dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun ini benar-benar menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk dihadapku mengisahkan tentang dirinya.

Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara lengkap, biar aku menemanimu untuk bersama-sama menatap kearah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di Negara Afrika selatan dimana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah Al-‘Alam Al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, disebuah Negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yaag berjanji menemuiku. Istri sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat.

Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘sily’. Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabhitah yang bernama Abdul Khaliq Matir, dimana ia mengabarkan kepadaku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabhitah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sasana tinju setelah memeluk islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut kedatangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira.

Sily seorang yang berpostur pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily, boleh kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silakan beri penilaian!

Sily berkata,”Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai disitu, aku juga salah seorang aktivis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktivitasku yang besar, vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi.

Aku mengambil dana vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit diantara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itu bermula sebuah perubahan! Di pasar itu, aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu, aku mengenakan jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawarkan harga yang disebutkan si penjual. Dari sini, aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika Selatan dengan sebutan ‘agama orang arab’. Kami tidak menyebutnya dengan sebutan islam.

Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsisten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kirstenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan. Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar”. Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakana, “Al-Masih”. Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam injil yang menyebutkan bahwa Al-Masih berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.

Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab injil dan kitab kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaaan lelaki tersebut. Namun, aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang menceritakan bahwa Al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah.

Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu, aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimana pun rumitnya. Namun, aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang arab. Ia hanya ingin menyesatkanku dan memasukkan kau kedalam agama orang arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” mereka membantah pertanyaan seperti itu, namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidata dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun, aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri dihadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit, padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruang kecil. Sambil menangis, aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun, kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… wahai Dzat yang telah menciptakanku… sungguh, telah tertutup semua pintu dihadapanku kecuali pintu-Mu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… Manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… Jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… Tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku kejalan yang benar.” Lantas aku pun tertidur.

Didalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun didalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruang tersebut muncul seorang lelaki.

Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun, aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu member isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!”. Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu.

Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim, kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar”. Ia berkata, “Lihatlah ke sebelah kananmu!” maka aku pun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasa sebuh kegembiraan menyelimutiku. Namun, aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, dimana gerangan sekelompok orang yang aku lihat di dalam mimpiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran. Sebagaimana cirri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin isi semua merupakan petunjuk dari Allah swt.. kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada.

Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Disana, aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu, aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jemaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempuyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan mesjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama persis yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang, ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya.

Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melajutkan ucapannya, “AKu melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya, yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar, aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami, Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah saw..” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun, langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkan lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah swt telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu sholat Zhuhur. Ia mempersilakanku duduk di tempat paling belakang dalam mesjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain.

Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka ruku’ dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para Nabi dan Rasul meletakkan dahinya di atas tanah untuk sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai terasa tenang dengan fenomena yang aku lihat.

Aku berucap dalam hati, “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.”. Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah swt..

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu cukup lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluargaku dan teman-temanku sedang mencariku. Namun, ketika melihat ku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan dewan gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh, kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang arab.”

Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah saw. datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya vatikan memintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah, aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, setelah meihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka, dan aku pun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islamnya Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim-maaf-Da’I Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit.

Setelah pertemuan itu, aku pergi ke Mekkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya di kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Da’I Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini, wahai Ibrahim?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah swt.. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah swt., ia meninggalkan kami menuju suatu daerah, medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah swt..

Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakainnya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasa ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai saudaraku. Kami telah tertinggal, kami berjalan lamban. Kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’I Ibrahim Sily, Da’I berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb, rahmatilah kami.


***

Di kutip dari buku Gema Syahadat di negeri Paman Sam ( kisah-kisah muallaf yang menerima kebenaran islam).
Kisah ke lima belas dengan judul "MIMPI BERTEMU RASUL (kisah Ibrahim sily)".
penerbit Citra Risalah Cetakan I, Safar 1430H/Februari 2009.
Klik Selengkapnya...

Senin, 19 Maret 2012

Ibu Muda dan Kisah Khadijah r.ha

Sepanjang perjalanan pulang dari mesjid sore itu seorang ibu muda manampakkan muka yang sumringah, hatinya begitu gembira setelah mendengar pengajian mingguan kali ini. Dalam hati ibu muda tersebut terbesit ucapan "hmmm.. kali ini kamu ngak bisa ngeles lagi wahai suamiku, ku sudah punya dalil kuat untuk mematahkan hujjahmu.!! hahahaha (ketawa dalam hati)".

Sesampai di rumah terlihat suaminya sedang duduk santai di emperan depan rumah sambil membaca buku agama. dalam hati ibu muda tersebut terbesit lagi ucapan "hmm.. pas kali timing nya nih.., lagi duduk santai sore hari,nanti kita suguhi segelas teh sebelum ngobrol, kata iklan, ngeteh sore hari kan romantis, hihihihi ( ketawa lagi dalam hati)".

Setelah mengucapkan salam kepada suaminya ibu muda tersebut langsung masuk rumah. Tas yang berisikan mukena dan quran yang di sandangnya selama perjalanan pulang diletakkan di atas rak di ruangan keluarga. Tanpa sempat untuk menukar pakaian, segera ibu muda tersebut meluncur ke dapur untuk menyeduh teh untuk mereka berdua nantinya.

******
Seminggu sebelumnya pasangan suami istri ini telibat pembicaraan tentang poligami, hal ini dipicu karena lagi hangatnya pembicaraan seorang ustdz terkenal yang menikah lagi. sebagai seorang wanita, tentu saja ibu muda ini berusaha untuk melakukan pembelaan terhadap istri pertama dari ustadz terkenal tersebut.Berbagai dalil dan dalih ia coba kemukakan agar pernikahan kedua sang ustadz tersebut dianggap tidak tepat. mulai dari alasan istri pertama ustadz tersebut masih cantik dan produktif, akhlak yang baik, sampai kepada menganggap sang ustadz menikah lagi karena nafsu karena istri kedua tersebut cantik. Namun sebaliknya sang suami menanggapi hal tersebut biasa saja, syariat membolehkan hal tersebut. "bahkan boleh sampai empat lho..?!", ucap suami sambil mencibir istrinya yang mulai hangat hatinya karena tidak membela pendapatnya. "huh.. dasar laki-laki!! egooiissss..!!!" gumamnya dalam hati.
******

Sore itu udara dan situasi sangat ramah, matahari tidak memancarkan teriknya yang menyengat, angin pun berarak dengan sepoi-sepoi. Ibu muda tersebut sudah berdiri di depan meja yang terletak di emperan depan rumah sambil meletakkan dua cangkir yang berisikan teh hangat, satu untuk suaminya dan satunya lagi buat dia sendiri.

"lagi baca buku apa bang ?", ibu muda tersebut memulai pembicaraan.
" nih.. lagi baca siroh nabawiyah". jawab suami.
"Nah... pas kali nih.." gumam istrinya dalam hati.

"tadi di mesjid ustadznya juga membahas siroh nabawi", ibu muda tersebut mulai mengarahkan pembicaraannya.
"wah.. bagus tuh..", jawab suami sambil mengambil cangir teh yang kemudian meminumnya.

"Ternyata pengorbanan Khadijah r.ha itu luar biasa ya bang, hartanya habis untuk perjuangan agama, ia menjadi salah satu orang pertama yang percaya akan ke-Rosul-an disaat orang-orang mengatakan suaminya pendusta."

"Iya.., sungguh luar biasa, ALLAH telah memilih khadijah sebagai istri Rosulullah, itu saja sudah cukup menjadikan dalil bahwa ia adalah wanita yang luar biasa. perlu ditiru tuh pengorbanannya..!?", suaminya berkomentar.

"iya bang, tapi abang juga perlu meniru juga suaminya Khadijah r.ha.?!!" kali ini pembicaraannya benar-benar sudah mengarah di depan gawang, tinggal nge-gol-kannya lagi.

"Iya.., insyaAllah.., kita sama-sama berusaha kearah tersebut". jawab suami.

"tau ngak bang, berdasarkan keterangan ustadz di pengajian tadi, ternyata Rosulullah itu ngak pernah menikah lagi selama khadijah r.ha hidup, istri pertamanya tidak pernah di madu oleh Rosulullah. nah.. abang perlu mencontohnya tuh..!!?" kali ini sang istri benar-benar merasa puas dan senang telah berhasil menyampaikan ucapannya tersebut.

"oh.., itu kan jika istri pertamanya janda.., kalau kamu kunikahinya masih gadis", jawab suaminya sambil menahan senyum dan membalikkan lembaran buku ke halaman berikutnya.

"huh.. dasar ngak mau kalah...", istrinya menggerutu dalam hati sambil mengambil cangkir teh untuk meminumnya.

== icun bin abdullah ==
* inspirasi dari malam ikatan sosial RT.
Klik Selengkapnya...

Jumat, 09 Maret 2012

Berbagi Pengalaman Umroh Di Bulan Ramadhan

Pekanbaru, 4 November 2011 s/d Maret 2012

Alhamdulillah Ramadhan tahun ini ( Agustus 2011) Allah izinkan Diriku untuk mengunjungi tanah haram. Berbagai pengalaman yang didapat dari perjalanan ini, terlalu panjang jika diuraikan satu persatu. Namun untuk sekedar berbagi tips dan supaya pengalaman ini tetap bisa diingat, maka muncullah tulisan ini. Semoga saja ada manfaat yang dapat dipetik dari tulisan ini. Semoga saja para pembaca dimudahkan Allah untuk melakukan perjalanan kesana. Bagi yang pernah, dipersilakan untuk berbagi pengalamannya disini.
Tanggal 3 Agustus / 3 Ramadhan 1432 H. saya, ibu, kakak dan 5 orang lainnya berangkat dari pekanbaru ke jakarta dengan pesawat garuda yang delay sekitar 1 jam.
Tanggal 4 Agustus / 4 Ramadhan 1432 H. saya, ibu, kakak, dan 5 orang jemaah lainnya dari pekanbaru bergabung dengan jemaah lainnya yang dijadikan 1 travel sehingga jumlah kami sekitar 43 orang.
Tips Umroh dibulan Ramadhan.

PERSIAPAN AWAL :
1. Pastikan Seluruh Persyaratan Adminstrasi di jaga sebaik-baiknya. Jika anda membawa orangtua atau orang-orang yang kurang berpengalaman. selalu ingatkan mereka terhadap barang bawaannya. kalau perlu untuk tiket pesawat, pasport dan persyaratan lainnya anda yang memegangya. karena ditakutkan kehilangan salah satu persyaratan menyebabkan gagal berangkat.

2. Selain bag/koper yang disediakan travel, usahakan bawa bag travel atau koper yang lain yang sama besarnya dengan bag/koper yang diberikan travel. Berbagai pengalaman menunjukkan, hampir tidak ada yang tidak berbelanja di tanah suci tersebut, meskipun waktu awal keberangkatan ia berazam dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan berbelanja apapun. (Dengan membawa bag travel tersebut) Sehingga sewaktu pulang ke tanah air kita hanya membawa 3 paket barang saja, yakni koper berisi pakaian, koper berisi oleh-oleh, dan satu galon air zam-zam. Pengalaman menunjukkan lebih sulit membawa banyak tas kecil untuk oleh-oleh, dibanding dikumpulkan dalam 1 bag travel. Biasanya minimal oleh-oleh yang dibawa :
- Beberapa kilo kurma biasa + kurma najwa + ruthab ( kurma muda) + kismis + kacang arab
- Beberapa kotak minyak wangi
- Tasbih + siwak + sejadah
- Beberapa baju jubah + serban
- Beberapa buah Al-quran
Seluruh oleh-oleh diatas cukup kita masukkan didalam bag travel tersebut.

3. Barang bawaan yang diperlukan selama perjalanan diletakkan dalam tas tenteng yang diletakkan di kabin ( atas tempat duduk pesawat) antara lain :
- quran, buku manasik, dan bahan bacaan lainnya yang terkait dalam hal agama.
 - Jaket - Kaos kaki ( karena didalam pesawat cukup dingin)
 - botol mineral atau gelas kosong, atau apa pun wadah yang bisa untuk menampung air. untuk botol/gelas mineral.
 - peralatan sholat( bagi perempuan) dan 1 stell pakaian ganti untuk persiapan jika pakaian yang digunakan terkena najis, dsb...,
 - dll

4. Catat nomor kontak penting penanggung jawab keberangkatan yang berada di indonesia di memory HP anda (bukan di memory kartu, karena nanti kita akan menukar kartu setibanya di tanah suci). begitu juga halnya nomor-nomor keluarga lainnya yang masih tersimpan di memory kartu, pindahkan ke memory HP.

5. Untuk menukar uang rupiah ke rial, sebaiknya ditukar sewaktu di arab saudi saja, jangan terbujuk dengan rayuan para penjual uang rial di bandara, karena lebih untung menukar di arab saudi (jeddah, madinah atau mekkah) walau pun selisihnya hanya sedikit. Di jedah, madinah dan mekkah sangat banyak tempat menukar uang. Jadi jangan ada pikiran “ ah.. tukar di indonesia ajalah, nanti susah nyari tempat nukar uang disana ”. pokoknya jangan takut dengan perkara tukar-menukar ini. Bahkan jika anda belum menukar uang rupiah ke rial, sebagian toko-toko disana mau menerima uang rupiah, tapi kursnya sedikit lebih rendah. Kalaupun anda ingin menukarnya juga ketika di indonesia sebagai pegangan, tukar sedkit saja, yah.. sekirar 500 ribu lah.

KEBERANGKATAN :

6. Upayakan berangkat dari indonesia pada malam hari. Karena kita akan melewati malam yang panjang. Pengalaman berangkat dari jakarta lebih kurang pukul 11 malam, dengan lama perjalanan sekitar 8 jam, namun tiba di jeddah baru pukul 3 malam waktu jeddah (sementara waktu di indonesia sudah pukul 7 pagi). Coba bayangkan jika anda berangkat jam 13 WIB(jam 1 siang), selama 10 jam anda terbang, anda akan tiba dijeddah pukul 18.00 waktu arab saudi ( enam sore, belum masuk waktu magrib/berbuka), padahal di Indonesia udah pukul 22 WIB.

7. Didalam pesawat, toiletnya sangat sempit dan istinja’nya menggunakan tissue. Untuk itu bawa gelas plastik atau botol air mineral yang kecil atau sedang. Jika lupa membawa wadah gelas plastik atau botol air mineral, kita gunakan gelas plastik/kara milik pesawat yang diberikan kepada kita untuk diminum, (jadi jangan dikembalikan ke pramugari gelas plastik/kara tersebut) Dan hati-hati terhadap percikan air seni. Bagi yang membawa orangtua, temani mereka ketika ke toilet, karena kebanyakan orangtua lupa cara membuka dan mengunci pintu toilet, atau bahkan lupa tempat duduknya ketika kembali dari toilet. Niatkan semua ini untuk ibadah.

8. Perbanyak amal didalam pesawat. Usahakan bisa membaca alquran, atau membaca buku manasik yang diberikan supaya lebih kuat ingatan. Untuk itu buku manasik jangan diletakkan di bagasi. Jika tidak ingin melakukan sesuatu, minimal mendengar murottal lewat handset yang diberikan pramugari di awal-awal keberangkatan. Untuk itu jangan menolak jika diberikan handset oleh pramugari. Untuk petunjuk penggunaannya, klo tidak bisa, minta pramugari mengajarkannya.

9. Jangan pernah meninggalkan sholat didalam pesawat jika waktu sholat telah tiba. Ambil wudhu di toilet, dan jangan lupa ajak teman-teman tetangga duduk untuk sholat juga.

10. Sebaiknya tukar kartu handphone anda setibanya di arab saudi, karena jauuuh lebih murah tarifnya (SMS atau call) dibanding menggunakan kartu pra bayar indonesia. Untuk membeli kartu handphone prabayar Arab Saudi beli di tempat penukaran uang / money changer di arab saudi, jangan beli di bandara di indonesia atau di bandara arab saudi ( biasanya ada saja orang yang menawarkan kartu pra bayar), karena lebih mahal.

11. Catat segera nomor kontak person untuk penanggung jawab di jeddah, madinah, dan mekkah. Dan juga segera saling sharing nomor HP di tanah suci untuk masing-masing jemaah umroh.

BERBELANJA :

12. Untuk berbelanja, rata-rata pedagang paham bahasa indonesia. Dan harus pintar-pintar melakukan penawaran, kalau perlu lakukan penawaran ½ harga. Intinya, pedagang disana sama saja seperti di indonesia, pintar nipu pembeli. jadi harus banyak referensi sebelum membeli.

13. Jangan terlalu tergesa-gesa untuk belanja. Untuk membeli kurma “TIDAK WAJIB” membeli di pasar kurma di madinah. Harga kurma disana sangat bersaing, artinya belum tentu harga di pasar kurma yang paling murah.

DIKOTA MADINAH :

11. Awal tiba di Madinah, kenali baik-baik nama hotel tempat menginap, kalau perlu minta kartu nama hotel tersebut. Pernah terjadi kejadian seorang jemaah jatuh di toilet di mesjidil haram yang menyebabkan kakinya sulit melangkah karena terkilir. Jemaah tersebut tidak bisa berkomunikasi kecuali bahasa indonesia. Namun karena ia memiliki kartu nama hotel tempat dia menginap, maka para penolong mudah untuk mengantarkannya ke hotel tersebut.

12. Ketika awal menuju mesjid, kenali tiap titik-titik yang bisa dijadikan tanda arah. Ini berguna agar kita mudah untuk pulang ke hotel kembali. Tanda-tanda arah bisa berupa bangunan besar, plang nama yang besar dan mencolok. Juga perhatikan pintu gerbang mesjid nomor berapa yang kita masuki.

13. Niat I’tikaf ketika masuk mesjid, langkah dengan kaki kanan ketika masuk mesjid. Kalau ingin meletakkan sandal di tempat-tempat yang disediakan di mesjid Nabawai, ingat baik-baik di rak nomor berapa sandal diletakkan. Dan yang tak kalah penting adalah melihat urutan penomoran rak. Sehingga misalnya, sandal anda letak di rak nomor 45, trus ketika anda mencari kembali rak tersebut, yang anda temukan rak nomor 60, maka dengan mengetahui tata urut rak, maka anda mudah mencari arah mana rak nomor 45, sehingga anda tidak semakin jauh dari rak nomor 45. Segera sholat 2 rekaat sesampai mesjid. Minum air zam-zam yang disediakan di dalam mesjid, Kemudian baru menuju taman raudhah. Usahakan sholat dan berdoa disana. Mengenai sandal, di mesjid nabawi sangat banyak rak-rak yang disediakan, letakkan sandal di tempat terdekat kita sholat. Jangan terburu-buru meletakkan sandal sewaktu masuk mesjid, karena mesjid nabawi sangat luas. Letakkan sandal di tempat yang terdekat dengan tempat sholat kita.

14. Usahakan dapat sholat sunnat di taman raudah minimal setiap hari 1 kali, dan berdoa disana dengan harapan yang besar dan keyakinan terkabulkan. karena taman raudah adalah salah satu tempat mustajab.

15. Banyak lakukan sholat dan amal lainnya ketika di mesjid. Boleh tidur-tiduran(I’tikaf) dimesjid nabawi dibulan Ramadhan. Atur waktu agar banyak di mesjid dibanding di hotel. Pengaturan waktu yang saya rekomendasi ketika di bulan ramadhan:

-Habis subuh jangan langsung pulang ke hotel, ‘iktikaf saja di mesjid walau sambil tidur-tiduran, setelah waktu dhuha tiba ( sekitar pukul 8, lakukan sholat dhuha 2 atau 4 atau 6 atau 8 rekaat, kemudian baca quran seberapa sanggup. Setelah itu kalau mau silakan langsung pulang ke hotel, jangan mampir berbelanja di siang hari. Lakukan hal yang perlu dilakukan di kamar hotel ( mencuci, mengemas pakaian, dsb). Jangan nonton telebvisi kecuali channel live mesjidil haram atau channel live mesjid nabawi.

- satu jam atau setengah jam sebelum zuhur sudah kembali ke mesjid nabawi ( mandi terlebih dahulu). I’tikaf disana sampai berbuka dan sholat magrhib. Jangan takut dengan bukaan, karena di mesjid nabawi dan mesjid haram sudah dipenuhi menu untuk berbuka. bahkan sampai diluar/pelataran mesjid.
- setelah sholat magrib silakan pulang ke hotel langsung menuju tempat makan. Makan jangan sampai kekenyangan, dan jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk makan. Cari kawan yang memiliki semangat beribadah yang sama atau lebih dari kita. Jangan cari kawan yang tidak memiliki atau lemah motifasi dalam beribadah.
- setelah makan, menuju kamar untuk melakukan persiapan sholat isya ( buang air, bersiwak/gosok gigi, dsb). Segera pergi menuju mesjid sebelum azan berkumandang. Bawa botol minuman untuk nantinya di isi dengan air zam-zam. Karena sholat isya+terawih memakan waktu satu setengah jam. Jadi kalau haus kita tidak perlu beranjak dari tempat sholat untuk membasahi mulut.
- Kalau mau berbelanja atau sekedar melihat-lihat pasar, lakukan disaat selesai terawih. Berbelanja dengan perhitungan, cari yang wajib-wajib dahulu. Selesai berbelanja lalu menuju hotel, sebelum ke kamar, singgah dahulu ke ruangan makan, biasanya minuman-minuman atau makanan ringan sewaktu berbuka tadi masih tersedia disana. Kalau perlu bawa minuman tersebut ke kamar. (biasanya kegiatan ini menghabiskan waktu sampai pukul 1 malam).

- lakukan hal-hal yang perlu dilakukan di kamar, kemudian siap-siap berangkat ke mesjid nabawi kembali untuk ber ‘I tikaf. Paling lama kita dimesjid tersebut sekitar 2 jam, karena sekitar pukul 3 malam akan ada azan untuk membangunkan tahajjud atau waktunya sahur. Nah… ketika waktu azan tersebut, lakukan sholat tahajjud beberapa rekaat yang pendek, kemudian kembali ke hotel untuk makan sahur. Jangan berlama-lama ketika sahur, setelah sahur kembali ke kamar untuk melakukan hal-hal seperlunya ( bersiwak dsb). Kemudian segera kembali ke mesjid nabawi untuk sholat shubuh.

Hal-hal diatas jika diatur dengan baik, InsyaAllah bisa dilaksanakan. Ber umrah di bulan Ramadhan benar-benar menguras tenaga dan waktu-waktu penting sangat sempit( misalnya : berbuka-sholat magrib- berbuka(makan berat) di hotel – sholat isya, waktu tersebut sangat sempit rentangnya. Kemudian lagi sholat isya-terawih-berbelanja-pulang kehotel-‘itikaf malam di mesjid- makan sahur di hotel – sholat subuh di mesjid juga sangat sempit. Untuk itu pengaturan waktu harus benar-benar akurat.

DI MESJIDIL HARAM MEKKAH

Ada beberapa pengecualian dari apa yang di uraikan diatas ketika selama di Madinah. Jarak hotel ke mesjid di mekkah biasanya lebih jauh dari pada jarak hotel ke mesjid di madinah. Selain itu jumlah jemaah di mesjid haram luar biasa ramainya dibanding di mesjid nabawi ( mesjid nabawi aja ramai..). untuk itu di mekkah memerlukan energi yang lebih ekstra.

16. Kalau di Madinah, habis terawih langsung berbelanja, di mekah lakukan tawaf setiap selesai sholat terawih, baru kemudian berbelanja/kepasar. Tawaf di siang hari bulan ramadhan ditakutkan terlalu letih( terlalu haus). Dengan melakukan tawaf setiap selesai tawaf, hampir-hampir waktu istirahat malam hari kita hampir-hampir tinggal sekitar 1 sampai 2 jam saja lagi.

17. Usahakan dapat sholat di multazam, atau minimal sholat di (dalam) hijir ismail, karena hijir ismail itu adalah bagian dari kabah.

18. Ikuti program ziarah ke beberapa tempat yang telah ditentukan.

HAL-HAL PENTING LAINNYA :

19. Dokumentasi (foto atau merekam video) lakukan diluar kegiatan umroh. ketika anda sudah berpakaian dan ber niat ihrom ( dari miqat), jangan lakukan hal-hal yang tidak diperlukan seperti berfoto atau mengambil foto, dan lainnya. banyakkan bertalbiah dan melakukan ibadah lainnya selama perjalanan menuju mekkah. Hati, Pikiran dan Sikap harus senantiasa sadar bahwa kita dalam umrah sampai seluruh rangkaian ibadah terlaksana dengan sempurna, ( mulai dari miqat, tawaf, sa'i, sampai tahallul).

20. Di sarankan untuk mencukurlah seluruh rambut setelah selesai ibadah umroh.

21. Megetahui dalil-dalil tentnag fadhilah-fadhilah ( keutamaan ) yang terkait dengan ibadah umroh. seperti keutamaan mesjid nabawi, mesjid al haram, taman raudah, multazam, dsb.

22. Pahami dan ingat baik-baik perkara-perkara rukun, wajib, larangan, sunnah-sunnah, dan adab-adab dalam menjalankan rangkaian ibadah umrah.

Klik Selengkapnya...

Rabu, 04 Januari 2012

Ustadz-Ustadz Perusak Harga Pasar

Pekanbaru, 4 Januari 2012

Sudah tidak asing bagi kita, diantara sekian banyak ustadz-ustadz yang memiliki niat yang besar untuk memperbaiki umat ini, diantaranya tidak sedikit juga yang mencari peruntungan disana. Dilihat dari kaca mata pelaku bisnis, status ustadz memang cukup layak dijadikan komuditas usaha. Banyaknya permintaan dari mesjid dan musholla hampir-hampir tidak dapat terpenuhi. Tak ayal lagi untuk mencarter seorang ustadz terkenal di masyarakat harus jauh-jauh hari sebelum hari H nya. Hal ini pulalah yang menyebabkan bermunculan badan-badan atau organisasi-organisasi yang mengumpulkan para ustdz dalam sebuah wadah formal. Dengan adanya wadah ini para pengurus musholla atau mesjid tidak direpotkan lagi untuk mencari ustadz-ustadz untuk mengisi wirid mingguan atau bulanannya. Pengurus mesjid tidak perlu susah payah lagi mencari khatib tiap jum’atnya. Panitia romadhon musholla atau mesjid tidak kasak kusuk menghubungi ustadz untuk mengisi santapan rohani romadhon tiap malam di bulan romadhon.

Wadah-wadah seperti ini patut diacungkan jempol ditengah-tengah kehidupan umat islam yang cenderung hedonis ini. Dimana umat islam sudah semakin jauh dari nilai-nilai agama, umat islam tidak punya waktu untuk menggali islam karena disibukkan oleh aktifitas dunia, semuanya sibuk mencari kesenangan dan kenikmatan hidup didunia.

Namun saat ini ada pergesaran nilai diantara ustadz-ustadz, unsur bisnisnya terkadang lebih dominan dari pada unsur agamanya. Penyakit umat pun telah menular ke beberapa ustadz. Pernah seorang ustdz berucap didepan pengajian wirid ibu-ibu bahwa ia tidak akan datang jika di undang ceramah tapi tidak diberikan amplop. Beberapa kali saya mengikuti ceramahnya, ustadz ini cukup terkenal ditengah masyarakat, dan ceramahnya cukup menarik.

Ada lagi ustadz terkenal lainnya, diundang untuk ceramah ba’da ashar, pada pembukaan ceramahnya ia sudah mengatakan bahwa ia saat itu harus mengisi ceramah didua tempat, jika ditotalkan waktu ceramahnya, mulai pembukaan sampai salam tidak sampai 20 menit, ia kemudian minta maaf untuk menyudahi ceramahnya. Dengan rasa kesal seorang utusan dari jemaah menemani ustadz keluar dari mesjid dan memberikan “salam tempel” kepada ustadz tersebut. semakin kesal tatkala melihat muka tidak bersalah ustadz tersebut ketika menerima amplot tersebut.

Dua contoh diatas merupakan potret dari sebagian ustadz saat ini. Kita tidak bisa lantas menyalahkan para ustadz ketika ia mulai berprinsip ekonomi. Juga tidak bisa menyalahkan wadah-wadah penyalur ustadz. Menurut salah satu ustadz yang tergabung dalam salah satu wadah penyalur ustadz, saat ini tidak bisa terlalu ketat menyeleksi ustadz untuk bergabung, karena peminatnya pun sedikit, sementara permintaan kebutuhan ustadz di masyarakat cukup banyak.
Hal ini memang cukup terasa ditengah masyarakat, kalau diperhatikan tiap jum’at, sekitar 1 dari 5 ustadz saja yang memiliki kompetensi sebagai ustadz, baik dilihat dari segi kedalaman materi atau sifat dan sikapnya. Bahkan beberapa kali ditemui ustadz yang tidak mencukupi rukun khutbahnya ketika menjadi khatib yang sepertinya karena kedangkalan ilmunya.

Dari beberapa hal yang telah dipaparkan diatas, ada yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi dikalangan para ustadz. Yakni adanya perasaan bersaing atau disaingi oleh ustadz dan para pendakwah agama yang murni ingin menegakkan islam. Para ustadz atau pendakwah agama ini tidak meminta upah dari seruannya bahkan menolaknya. Bahkan lagi sampai-sampai kalau perlu hartanya juga ikut berkurang dalam rangka menyampaikan seruan agama. Seseorang telah meyampaikan bahwa ia pernah mendengar percakapan tersebut dari ustadz-ustadz di salah satu sekretariat wadah penyalur ustadz. Ustadz-ustdz ini merasa kehadiran para ustadz tanpa bayaran ini sebagai perusak harga pasar dan menjadi saingan berat di pasaran jika semakin banyaknya para ustadz gratisan ini. Ironis.. sungguh ironis.

Memang tidak dipungkiri sudah mulai banyak para penda’wah agama yang murni berkorban diri dan hartanya. Bahkan beberapa ustadz yang pada mulanya masih mengambil upah terhadap ceramahnya, kini dengan hidayah dan penuh kesadaran ia mulai tidak mengambil upah dari seruannya. Sebenarnya ustadz-ustadz ini bukannya tidak berkeinginan mendapat imbalan dari apa yang ia serukan, namun ia lebih memilih imbalan itu disimpan di kehidupan yang abadi nanti dari Tuhannya.

Sebagai penutup saya kutip ceramah seorang kiyai di tanah jawa :
Dahulu, ketika seorang ustadz pulang dari memberi seruan agama, maka istrinya menyambutnya dengan pertanyaan :
“wes muleh mas, entok piro ? ( udah pulang bang, dapat berapa ?)
Kemudian setelah suaminya menjadikan dirinya da’i agama ini, maka istrinya menyambutnya dengan pertanyaan :
“wes muleh mas, entek piro ? ( udah pulang mas, habis berapa ? )

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Rabu, 14 Desember 2011

Antara Oplet Dan Jodoh


Pekanbaru, 14 Desember 2011

Suatu kali, dimasa sekolahan dahulu, saya bersama dua orang teman bersepakat untuk naik oplet (angkutan umum) yang sama. Sebenarnya hal ini memang sudah menjadi kebiasaan kami bertiga sepulangnya dari sekolah. Namun hari itu berbeda dengan hari biasanya, sudah banyak oplet yang lewat dan singgah di persimpangan empat tempat kami menunggu. Satu persatu manusia yang berseragam sama dengan kami mulai meninggalkan persimpangan tersebut. Lebih 1 jam kami berdiri di persimpangan tersebut, sampai-sampai tidak ada lagi manusia berseragam seperti kami kecuali kami bertiga.

Sudah mulai pegal kaki ini berdiri, sudah habis pula bahan bicara, namun kami belum bisa memutuskan oplet mana yang akan kami tumpangi. Selalu saja ada alasan untuk tidak naik oplet yang singgah di persimpangan tersebut. Mulai dari alasan penuhnya penumpang, musiknya tidak enak, bodi opletnya kurang bagus, penumpangnya ngak ada yang cantik, dan sejumlah alasan lain selalu mengurungi niat kami atau salah seorang dari kami untuk menaiki oplet yang singgah di persimpangan tersebut. Waktu berlalu terus, dan kami bertiga masih berdiri di persimpangan tersebut. Terkadang terlihat jelas kekesalan diraut muka supir oplet ketika salah seorang dari kami yang sudah ingin menaiki oplet, namun yang lain menarik tangannya sambil berkata “ngak usahlah, yang lain aja”.

Sampai kepada puncak kelelahan, energi sudah mulai habis, waktu pun semakin senja. Keinginan yang muncul dalam kondisi tersebut adalah hanya satu, yakni “HARUS PULANG SEGERA”. Seolah-olah ketika itu, apapun yang menghalangi kami untuk pulang dengan segera, akan kami terjang. Tidak ada lagi kepedulian tentang bagaimana bentuk opletnya, tahun berapa rakitannya, siapa pun penumpang didalamnya, mau nenek-nenek yang kriput atau anak SD yang bau keringat, kami sudah tidak peduli lagi.

Wal hasil, dari kejauhan kami sudah lambaikan tangan kepada oplet yang bergerak mengarah kami, dan kami pun menaiki oplet tersebut dengan ikhlas se ikhlas ikhlasnya. Namun kami tidak bisa menahan ketawa sepanjang perjalanan kami di dalam oplet tersebut. Orang-orang didalam oplet tersebut hanya terheran-heran melihat kami. Tidak ada angin dan tidak ada ribut, tidak juga percakapan, yang ada hanya menahan tawa sekuat tenaga sepanjang perjalanan. Tiap salah satu dari kami mulai menahan tawa, yang lain pun akan ikut terimbas menahan tawa.

Tidak ada yang aneh di oplet tersebut yang membuat kami tertawa. Sebenarnya kami menertawakan diri kami sendiri, ternyata hasil yang kami perolah dari setumpuk pertimbangan dalam memilih oplet tersebut jatuh ke sebuah oplet yang diluar prediksi. Pilihan kami ternyata jatuh ke sebuah oplet yang memiliki standar dibawah oplet-oplet yang lewat sebelumnya, penumpangnya juga tidak ada yang menarik, jangankan untuk mendengar alunan musik, kotak speakernya juga tidak terlihat didalam oplet tersebut.

*** 

Hari ini ku berpikir sama saat melihat teman-teman dan orang-orang disekitarku yang masih setia dalam kesendiriannya. Sudah banyak lawan jenis yang mendekati, sudah sering pemuda atau pemudi yang memberi sinyal isyarat, namun tetap saja yang pertama dilihat adalah kelemahan atau kekurangan dari mereka. Setumpuk persyaratan telah disyaratkan dalam memilih. Satu persyaratan saja tidak terpenuhi langsung didiskualifikasi. Ia terus menunggu antrian berikutnya dengan harapan yang datang mampir berikutnya memenuhi hasrat hatinya. Menunggu dan terus menunggu dilakukannya, dan telah banyak yang datang dan pergi menghampiri, namun tetap saja ia mengharap sesuatu yang lebih baik yang akan datang berikutnya. Kemudian ia pun mulai lelah, energinya pun telah berkurang seiring bertambahnya umur. Hasrat pun semakin memuncak, tekanan semakin bertambah, mataharipun sudah meninggi pertanda sudah habis separuh hari, ketakutan tidak ada lagi yang antri semakin membesar, sampai suatu titik ia akan berkata “HARUS MENIKAH SEGERA”, tidak ada yang bisa menghalangi lagi, karena hasrat sudah sampai ke ubun-ubun. Tidak peduli dengan segala persyaratan yang ia telah tetapkan sebelumnya kecuali hanya sedikit, itu pun sekedar “Yang Penting Baik”.

Akhirnya ia pun menjatuhkan pilihan, sebuah pilihan yang diterimanya dengan ikhlas, bersama pilihannya tersebut ia melewati suka dan duka dalam hari-harinya, berbagi keceriaan bersama, saling mengisi kekurangan yang ada. Bersama pilihannya ia menjalani sisa-sisa hidupnya dengan bahagia. Sebuah kebahagian yang datang bukan karena terpenuhi segala persyaratan ketika dahulunya ia tetapkan, tetapi karena ia telah ikhlas akan garis hidupnya. Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah yang terbaik untuknya. Dalam perjalanan ia sadar, bahwa banyak kekurangan dalam dirinya, dan banyak hal yang ia pelajari dari pilihannya. Tidak ada kata penyesalan yang keluar, karena memang sudah tidak ada guna untuk menyesali yang telah ia lewati. Dalam kesendirian diheningnya malam hatinya berucap “dunia ini terlalu singkat untuk berlama-lama dalam menentukan pilihan, dan saya bersyukur walau terlambat, karena masih bisa menjatuhkan pilihan sebelum pilihan itu sudah habis. Karena mungkin saja, dia adalah antrian terakhir yang ALLAH datangkan, dan tidak ada lagi antrian dibelakangnya”.

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Selasa, 27 September 2011

Mengejar Dunia Dengan Alasan Akhirat

Pekanbaru, Selasa 27 September 2011 / 28 Syawal 1432H.
Mengejar Dunia Dengan Alasan Akhirat ( upaya legalitas keinginan nafsu )


"kalau kita kaya, kita bisa bersedekah, berinfak, membantu fakir miskin, menolong orang susah, membangun mesjid, mendirikan Madrasah, dan sebagainya. jadi dengan kaya lebih bisa banyak berbuat kebaikan sehingga lebih banyak meraup pahala"

kalimat diatas atau semakna dengannya sering dilontarkan oleh orang-orang yang sedang memiliki niat untuk mendapatkan kekayaan dunia, namun tidak ingin disalah-artikan oleh orang lain sebagai pengejar dunia. seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa kesibukan mereka terhadap dunia ini adalah untuk kemaslahatan umat islam dan akhiratnya.

Kalimat lainnya yang biasanya mengiringi kalimat diatas : “bekerja kan mendapat pahala juga, mencari uang kan mendapat pahala juga“

kebanyakan dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat diatas adalah kehidupan sahabat-sahabat nabi Muhammad SAW yang ALLAH telah takdirkan kaya terhadap mereka, seperti halnya usman bin affan dan abdurrahman bin auf radhiyallahu'anhuma.

Abu Hurairah berkata; "Utsman bin Affan sudah membeli surga dari Rasulullah dua kali; pertama ketika mendermakan hartanya untuk mengirimkan pasukan ke medan perang, Kedua ketika membeli sumber air (dari Raimah)"(HR.Tirmizi).
usman menyumbang 20.000 ribu dirham untuk sumur milik orang yahudi. di perang tabuk usman bin affan telah berinfak 300 unta dan 1.000 dirham.

kisah sahabat abdurrahman bin auf ra. tidak kalah menariknya, ia berinfak sebanyak dua ratus uqiyah ketika perang tabuk. ketika Rasulullah menanyakan apa yang ia tinggalakan untuk keluarganya, maka Abdurrahman menjawab, "Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan." "Berapa?" Tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, "Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Masih banyak lagi kisah kedermawanan para sahabat yang kaya. Cerita-cerita seperti ini sering dikumpulkan untuk dijadikan dalil dalam upaya legalitas aktifitas keduniaan orang-orang diatas.

BENARKAH SEMAKIN BANYAK HARTA AKAN BANYAK KEBAIKAN YANG BISA DIBAGI?

sekilas statment "semakin banyak harta semakin banyak kebaikan yang bisa dibagi dan menghasilkan pahala yang lebih banyak" sangat bisa diterima, terutama dari pandangan jumlah atau besaran yang diderma dengan satuan ukuran yang tampak atau lahiriah. Sudut pandang seperti ini hanya mengukur berapa besar nilai harta yang diderma, sehingga nilai atau angka 100 yang diderma akan dianggap lebih mulia dibanding angka 10. Seseorang yang berinfak dengan seekor sapi lebih berpahala dibanding seseorang yang berinfak dengan seekor kambing. memberi anak yatim dengan nasi bungkus dari rumah makan lebih berpahala dibanding seseorang yang memberi makan anak yatim dengan makanan yang biasa dimakan sehari-hari.

Ternyata melihat dari sudut pandang jumlah atau besaran derma yang diberikan seperti diatas tidak cukup. Kebaikan itu tidak saja dinilai dari satuan besaran derma, jauh dari  itu ALLAH mengganjarkan pahala kebaikan seseorang itu dari satuan besaran mujahadah dan keikhlasan. 10 dinar dengan 100 dinar yang diinfakkan tidak berarti lebih banyak pahala orang yang berinfak 100 dinar, karena yang dilihat itu seberapa mujahadahnya pengorbanan antara 10 dengan 100 dinar tersebut.

Dari abu hurairah r.a, ia berkata bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi SAW., “Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw bersabda, “Bersedekah pada waktu sehat, tamak kepada harta, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘ harta untuk sifulan sekian, dan untuk sifulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik sifulan (ahli waris)” (HR Bukhari,Muslim – Misykat).

Dari abu hurairah ra. Bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. Menjawab, “Sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang tidak mampu. Dan mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggunganmu (HR. Abu Daud – Misykat).

Didalam kitab fadhail shadaqah, setelah mengutip hadis diatas, Maulana muhammad zakaria al-kandahlawi rah.a. mengemukakan sebuah riwayat hadist dari Ali r.a. “Ali ra berkata bahwa tiga orang datang kepada Rasulullah saw. Salah seorang diantaranya berkata, “wahai Rasulullah, saya mempunyai uang seratus dinar, saya telah membelanjakannya sepuluh dinar dijalan Allah.” Kemudian orang kedua berkata, “Saya mempunyai uang sepuluh dinar, dan saya telah menyedekahkannya satu dinar.” Orang ketiga berkata, “Saya hanya mempunyai 1 dinar, dan saya menyedekahkannya sepersepuluh bagian dari uang tersebut.” Rasulullah saw bersabda, “pahala kalian sama, karena kalian bersedekah dengan sepersepuluh dari harta yang kalian miliki.”

Dalam hadist lain menyebutkan kisah semacam ini, Rasulullah saw menjelaskan jawaban atas pertanyaan mereka, bahwa mereka memperoleh pahala yang seimbang karena masing-masing telah menyedekahkan sepersepuluh harta mereka. Setelah bersabda, Rasulullah saw. Membaca ayat terakhir dalam ruku’ pertama surat ath-thalaq :

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuan-nya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tideak membebani seseorang melainkan (sekedar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. Kelak Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”(QS: Ath_Thalaq:7). (Kanzul-ummal).

‘Allamah Suyuti rah.a dalam kitab Durul manstur telah memberi keterangan tentang ayat diatas, yaitu sebuah kisah mengenai sahabat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ali r.a. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadist yang shahih yang menyatakan bahwa bersedekah satu dirham dapat menjadi lebih besar dari seratus ribu dirham dari segi pahalanya. Yaitu, apabila seseorang mempunyai uang sebesar dua dirham, kemudian ia menyedekahkannya sebesar satu dirham dijalan Allah. Dan orang lain yang mempunyai harta yang banyak dan menyedekahkannya hanya seratus ribu dirham, maka satu dirham yang disedekahkan orang pertama mempunyai pahala yang lebih banyak.

Hal yang menarik lainnya adalah pemilik harta belum tentu mendapatkan pahala lebih dari pada orang suruhannya. Misalnya seorang raja memberikan sebuah delima kepada seorang bawahannya untuk diberikan kepada seseorang yang sakit di sebuah kampung yang letakknya sangat jauh, maka apa yang dilakukan pegawai tersebut lebih berharga dibandingkan apa yang dilakukan oleh raja (Aini).

“Al ajru ‘ala qadrinnashob” (sesungguhnya pahala itu tergantung pada jerih payahnya).

Kalau kita cermati kisah perang tabuk, yang paling banyak dermanya saat itu adalah utsman bin affan r.a. dengan 300 unta + 1000 dinar. Tapi kisah yang terkenal bukan tentang sedekahnya utsman, melainkan abu bakar dan umar yang telah menyedekahkan seluruh harta dan separuh hartanya. Padahal seluruh harta yang dinfakkan abu bakar r.a. ketika itu tidak sebanyak apa yang diinfakkan utsman bin affan r.a. Begitu juga dengan umar bin khattab r.a., ia tidak menghitung total jumlah kesulurahan harta abu bakar untuk dibandingkan dengan jumlah total harta yang diinfakkannya, namun umar hanya melihat bahwa abu bakar telah menginfakkan "SELURUH HARTA" sedangkan ia hanya "SEPARUH HARTA".

Umar bin Khaththab r.a. menuturkan, "Rasulullah saw. menyuruh kami bersedekah. Kebetulan saat itu aku memiliki cukup banyak harta sehingga aku sempat berkata dalam hati, hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar r.a., jika memang berhasil mengalahkannya.’ Aku menemui Rasulullah saw. dengan menyerahkan se-tengah hartaku. Rasulullah saw. bertanya, 'Berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu?' Aku menjawab, 'Sebanyak yang kuserahkan ini.’ Kemudian datanglah Abu Bakar r.a. dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah saw. bertanya, 'Hai Abu Bakar, berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu.' Abu Bakar menjawab, 'Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.' Aku berkata dalam hati lagi, 'Demi Allah, aku tidak akan pernah dapat mengalahkannya'." (HR Tirmidzi) ( Diriwayatkan olel1 Tirmidzi, Kitab al-Manaqib; Bab fi Manaqib Abi Bakr, no.3675. Tirmidzi berKata, "Hadits ini hasan shahih".)

Umar merasa dirinya telah kalah dari abu bakar bukan karena banyaknya harta yang diinfak, tapi pengorbanan dan kecintaan terhadap agama yang menjadi acuan standarnya, umar masih menyisakan setengah hartanya, sementara abu bakar telah sepenuhnya berkorban untuk agama ini.

TIDAK BERCERMIN DENGAN KEHIDUPAN SAHABAT SECARA KESELURUHAN.

kalau kita perhatikan kehidupan sahabat secara komprehensif, maka kita akan melihat bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan perkara agama. ada sahabat yang habis hartanya karena agama, ada sahabat yang hartanya tetap atau tidak bertambah atau berkurang, ada juga sahabat yang rezekinya melimpah bertambah walaupun sudah habis-habisan menginfakkan hartanya. Tidak akan kita jumpai sahabat menyibukkan diri dan waktunya untuk mengumpulkan harta dengan alasan akhirat. Dahulu abu bakar r.a. adalah saudagar yang kaya, kemudian hartanya habis karena agama. Dahulu khadijah r.ha. adalah wanita yang kaya, kemudian hartanya habis untuk agama.

Utsman bin affan r.a. adalah pedagang, tapi kekayaannya bukan karena ia menyibukkan diri dengan perdagangannya. Abdurrahman bin auf r.a. juga pedagang yang kaya, tapi kekayaannya bukan karena ia menyibukkan diri dengan perdagangannya. utsman bin affan dan abdurrahman bin auf memang ALLAH telah takdirkan menjadi pedagang besar yang memasok barang dagangan dari syam. mereka tidak pernah meninggalkan panggilan jihad karena perdagangannya.

Intinya adalah : para sahabat berlomba-lomba untuk akhirat sesuai dengan kemampuannya. dan tiap sahabat memiliki kemuliaan tersendiri dari apa yang mereka usahakan terhadap akhiratnya. mereka tidak melihat bahwa jalan terbaik untuk mendapatkan akhirat adalah dengan banyak harta. bahkan... sahabat adalah orang-orang yang tidak peduli apakah hartanya berkurang atau bertambah karena agama.

Begitulah agama.., tiap orang bisa mulia dengan apa yang ia miliki. tiap orang bisa bahagia walau bagaimanapun kondisinya, tiap orang bisa saling berlomba untuk akhirat walau memiliki kapasitas yang berbeda.

orang kaya bisa berdalil dengan keutamaan berinfaknya.
orang miskin bisa berdalil dengan keutamaan seorang yang miskin ( 500 tahun lebih dahulu masuk surga dibanding kaya, dsb..)
orang berilmu bisa berdalil tentang keutamaan ilmunya.
orang yang hapal aquran bisa berdalil dengan keutamaan para huffaz.
orang yang terbata-bata membaca quran pun bisa berdalil dengan keutamaan orang yg bersungguh-sungguh membaca, sehingga mendapat 2 pahala.
imam bisa berdalil dengan keutamaan seorang imam, muazin pun bisa berdalil dengan keutamaan muazzin.
Sahabat-sahabat nabi bisa berdalil tentang keutamaannya, umat akhir zaman pun bisa berdalil dengan keutamaan umat akhir zaman.

intinya adalah : siapa pun, kondisi bagaimanpun, di zaman apa pun, di posisi manapun, bisa meraup pahala yang besar untuk akhiratnya, bisa memiliki andil besar untuk kebaikan, bisa saling berlomba menggapai ridho ALLAH, bisa saling bersaing mendapatkan surga yang tertinggi.

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuan-nya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tideak membebani seseorang melainkan (sekedar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. Kelak Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”(QS: Ath_Thalaq:7)

TIDAK PERLU BANYAK HARTA UNTUK KEJAR AKHIRAT, BAHKAN SI MISKIN LEBIH BERANI DAN BANYAK BERKORBAN DI BANDING SI KAYA.

Harta bukanlah hal yang tertinggi dalam jajaran tingkat pengorbanan agama karena azaz pengorbanan agama itu meliputi dua hal, yakni diri dan harta. Alllah selalu menggandeng dua hal ini ketika berbicara tentang pengorbanan terhadap agama :

"Berangkatlah engkau semua, dengan rasa ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta-harta dan dirimu semua fisabilillah." (at-Taubah: 41)

"Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang fisabilillah, sebab itu mereka dapat membunuh dan dibunuh, menurut janji yang sebenarnya dari Allah yang disebutkan dalam Taurat, Injil dan al-Quran. Siapakah yang lebih dapat memenuhi janjinya daripada Allah? Oleh sebab itu, bergembiralah engkau semua dengan perjanjian yang telah engkau semua perbuat dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar." (at-Taubah: 111)

"Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk-duduk -di rumah yakni tidak mengikuti peperangan- dari golongan kaum mu'minin yang bukan karena keuzuran, dengan orang-orang yang berjihad fisabilillah dengan barta-harta dan dirinya. Allah melebihkan tingkatan orang-orang yang berjihad dengan harta-harta dan dirinya itu daripada orang-orang yang duduk-duduk tadi. Kepada masing-masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang duduk-duduk dengan pahala yang besar, yaitu berupa derajat-derajat -yang tinggi, juga pengampunan dan kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 95-96)

"Hai sekalian orang-orang yang beriman. Sukakah kalau saya tunjukkan kepadamu semua akan sesuatu perdagangan yang dapat menyelamatkan engkau semua dari siksa yang menyakitkan? Yaitu supaya engkau semua beriman kepada Allah dan RasulNya dan pula berjihad fisabilillah dengan harta-harta dan dirimu semua. Yang sedemikian itu adalah lebih baik untukmu semua, jikalau engkau semua mengetahui. Allah juga akan mengampunkan dosa-dosamu semua serta memasukkan engkau semua dalam syurga-syurga yang mengalirlah sungai-sungai di bawahnya, demikian pula beberapa tempat tinggal yang indah di syurga 'Adn -kesenangan yang kekal- dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar. Ada pula pemberian-pemberian yang lain-lain yang engkau semua mencintainya, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (as-Shaf: 10-13)

Dilihat dari ayat-ayat diatas, ternyata azaz dari pengorbanan itu adalah diri dan harta. Seseorang itu disebut sempurna pengorbanannya untuk agama bila dirinya ikut terjun berjihad dengan hartanya sendiri. Dahulu sahabat nabi berjuang dengan dirinya dan hartanya masing-masing. Sahabat-sahabat yang tidak memiliki harta, bila ada perintah jihad, maka ia berusaha bekerja untuk mendapatkan harta dengan bekerja atau mengambil upah dan kemudian dengan harta itu ia berangkat berjihad. Sahabat-sahabat yang benar-benar tidak memiliki harta pun berangkat dengan harta orang lain. Yang tersisa dari itu adalah sahabat-sahabat yang memang memiliki keuzuran ( faktor usia, kondisi fisik yang lemah, dsb) sehingga hanya hartanya saja yang diinfakkan tanpa dirinya ikut serta. Dari hal ini dapat terlihat bahwa tingkat atau keutamaan berkorban dengan diri jauh lebih utama dari berkorban dengan sekedar harta.

".....Kepada masing-masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang duduk-duduk dengan pahala yang besar, yaitu berupa derajat-derajat -yang tinggi, juga pengampunan dan kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 95-96)

Dari bukti empiris di lapangan, ternyata yang terjadi di dunia dakwah adalah si miskin lebih berani berkorban untuk agama dibanding yang banyak harta. Si miskin lebih tangguh untuk meninggalkan pekerjaannya demi agama. Si miskin lebih sanggup untuk bersusah-susah dilapangan dibanding yang kaya. si miskin sanggup dengan resiko mati dalam da’wah dibanding yang banyak harta. Si miskin lebih tahan banting menerima tekanan dan hinaan dalam dakwah. Si miskin lebih berani meninggalkan harta dan keluarganya dibanding yang kaya.

Dan si kaya…, hanya berani memberi harta tanpa sanggup terjun langsung ke kancah da’wah dilapangan. Tidak sanggup berpanas-panas, tidak sanggup kelaparan, tidak sanggup terluka, tidak sanggup kerja kasar, tidak sanggup meninggalkan pekerjaan dalam waktu lama, tidak sanggup berpisah dengan rumah yang mewah menuju ke pelosok-pelosok negeri. Si kaya…., hanya memberi hartanya yang bahkan tidak sampai 1% dari hartanya untuk suatu keperluan agama.

=====================
kalau ada orang yang meninggalkan jabatan karena agama, maka ku cenderung percaya. tapi kalau ada orang yang mengejar jabatan dengan alasan agama atau akhirat, ku cenderung tidak percaya.

kalau ada orang yang sibuk menginfakan hartanya karena alasan agama, maka ku cenderung percaya. tapi kalau ada orang yang sibuk mencari harta dengan alasan agama dan ingin banyak pahala nantinya, maka ku ragu akan ketulusan niatnya.
==============

Icun bin abdullah
Klik Selengkapnya...