Rabu, 04 Januari 2012

Ustadz-Ustadz Perusak Harga Pasar

Pekanbaru, 4 Januari 2012

Sudah tidak asing bagi kita, diantara sekian banyak ustadz-ustadz yang memiliki niat yang besar untuk memperbaiki umat ini, diantaranya tidak sedikit juga yang mencari peruntungan disana. Dilihat dari kaca mata pelaku bisnis, status ustadz memang cukup layak dijadikan komuditas usaha. Banyaknya permintaan dari mesjid dan musholla hampir-hampir tidak dapat terpenuhi. Tak ayal lagi untuk mencarter seorang ustadz terkenal di masyarakat harus jauh-jauh hari sebelum hari H nya. Hal ini pulalah yang menyebabkan bermunculan badan-badan atau organisasi-organisasi yang mengumpulkan para ustdz dalam sebuah wadah formal. Dengan adanya wadah ini para pengurus musholla atau mesjid tidak direpotkan lagi untuk mencari ustadz-ustadz untuk mengisi wirid mingguan atau bulanannya. Pengurus mesjid tidak perlu susah payah lagi mencari khatib tiap jum’atnya. Panitia romadhon musholla atau mesjid tidak kasak kusuk menghubungi ustadz untuk mengisi santapan rohani romadhon tiap malam di bulan romadhon.

Wadah-wadah seperti ini patut diacungkan jempol ditengah-tengah kehidupan umat islam yang cenderung hedonis ini. Dimana umat islam sudah semakin jauh dari nilai-nilai agama, umat islam tidak punya waktu untuk menggali islam karena disibukkan oleh aktifitas dunia, semuanya sibuk mencari kesenangan dan kenikmatan hidup didunia.

Namun saat ini ada pergesaran nilai diantara ustadz-ustadz, unsur bisnisnya terkadang lebih dominan dari pada unsur agamanya. Penyakit umat pun telah menular ke beberapa ustadz. Pernah seorang ustdz berucap didepan pengajian wirid ibu-ibu bahwa ia tidak akan datang jika di undang ceramah tapi tidak diberikan amplop. Beberapa kali saya mengikuti ceramahnya, ustadz ini cukup terkenal ditengah masyarakat, dan ceramahnya cukup menarik.

Ada lagi ustadz terkenal lainnya, diundang untuk ceramah ba’da ashar, pada pembukaan ceramahnya ia sudah mengatakan bahwa ia saat itu harus mengisi ceramah didua tempat, jika ditotalkan waktu ceramahnya, mulai pembukaan sampai salam tidak sampai 20 menit, ia kemudian minta maaf untuk menyudahi ceramahnya. Dengan rasa kesal seorang utusan dari jemaah menemani ustadz keluar dari mesjid dan memberikan “salam tempel” kepada ustadz tersebut. semakin kesal tatkala melihat muka tidak bersalah ustadz tersebut ketika menerima amplot tersebut.

Dua contoh diatas merupakan potret dari sebagian ustadz saat ini. Kita tidak bisa lantas menyalahkan para ustadz ketika ia mulai berprinsip ekonomi. Juga tidak bisa menyalahkan wadah-wadah penyalur ustadz. Menurut salah satu ustadz yang tergabung dalam salah satu wadah penyalur ustadz, saat ini tidak bisa terlalu ketat menyeleksi ustadz untuk bergabung, karena peminatnya pun sedikit, sementara permintaan kebutuhan ustadz di masyarakat cukup banyak.
Hal ini memang cukup terasa ditengah masyarakat, kalau diperhatikan tiap jum’at, sekitar 1 dari 5 ustadz saja yang memiliki kompetensi sebagai ustadz, baik dilihat dari segi kedalaman materi atau sifat dan sikapnya. Bahkan beberapa kali ditemui ustadz yang tidak mencukupi rukun khutbahnya ketika menjadi khatib yang sepertinya karena kedangkalan ilmunya.

Dari beberapa hal yang telah dipaparkan diatas, ada yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi dikalangan para ustadz. Yakni adanya perasaan bersaing atau disaingi oleh ustadz dan para pendakwah agama yang murni ingin menegakkan islam. Para ustadz atau pendakwah agama ini tidak meminta upah dari seruannya bahkan menolaknya. Bahkan lagi sampai-sampai kalau perlu hartanya juga ikut berkurang dalam rangka menyampaikan seruan agama. Seseorang telah meyampaikan bahwa ia pernah mendengar percakapan tersebut dari ustadz-ustadz di salah satu sekretariat wadah penyalur ustadz. Ustadz-ustdz ini merasa kehadiran para ustadz tanpa bayaran ini sebagai perusak harga pasar dan menjadi saingan berat di pasaran jika semakin banyaknya para ustadz gratisan ini. Ironis.. sungguh ironis.

Memang tidak dipungkiri sudah mulai banyak para penda’wah agama yang murni berkorban diri dan hartanya. Bahkan beberapa ustadz yang pada mulanya masih mengambil upah terhadap ceramahnya, kini dengan hidayah dan penuh kesadaran ia mulai tidak mengambil upah dari seruannya. Sebenarnya ustadz-ustadz ini bukannya tidak berkeinginan mendapat imbalan dari apa yang ia serukan, namun ia lebih memilih imbalan itu disimpan di kehidupan yang abadi nanti dari Tuhannya.

Sebagai penutup saya kutip ceramah seorang kiyai di tanah jawa :
Dahulu, ketika seorang ustadz pulang dari memberi seruan agama, maka istrinya menyambutnya dengan pertanyaan :
“wes muleh mas, entok piro ? ( udah pulang bang, dapat berapa ?)
Kemudian setelah suaminya menjadikan dirinya da’i agama ini, maka istrinya menyambutnya dengan pertanyaan :
“wes muleh mas, entek piro ? ( udah pulang mas, habis berapa ? )

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Rabu, 14 Desember 2011

Antara Oplet Dan Jodoh


Pekanbaru, 14 Desember 2011

Suatu kali, dimasa sekolahan dahulu, saya bersama dua orang teman bersepakat untuk naik oplet (angkutan umum) yang sama. Sebenarnya hal ini memang sudah menjadi kebiasaan kami bertiga sepulangnya dari sekolah. Namun hari itu berbeda dengan hari biasanya, sudah banyak oplet yang lewat dan singgah di persimpangan empat tempat kami menunggu. Satu persatu manusia yang berseragam sama dengan kami mulai meninggalkan persimpangan tersebut. Lebih 1 jam kami berdiri di persimpangan tersebut, sampai-sampai tidak ada lagi manusia berseragam seperti kami kecuali kami bertiga.

Sudah mulai pegal kaki ini berdiri, sudah habis pula bahan bicara, namun kami belum bisa memutuskan oplet mana yang akan kami tumpangi. Selalu saja ada alasan untuk tidak naik oplet yang singgah di persimpangan tersebut. Mulai dari alasan penuhnya penumpang, musiknya tidak enak, bodi opletnya kurang bagus, penumpangnya ngak ada yang cantik, dan sejumlah alasan lain selalu mengurungi niat kami atau salah seorang dari kami untuk menaiki oplet yang singgah di persimpangan tersebut. Waktu berlalu terus, dan kami bertiga masih berdiri di persimpangan tersebut. Terkadang terlihat jelas kekesalan diraut muka supir oplet ketika salah seorang dari kami yang sudah ingin menaiki oplet, namun yang lain menarik tangannya sambil berkata “ngak usahlah, yang lain aja”.

Sampai kepada puncak kelelahan, energi sudah mulai habis, waktu pun semakin senja. Keinginan yang muncul dalam kondisi tersebut adalah hanya satu, yakni “HARUS PULANG SEGERA”. Seolah-olah ketika itu, apapun yang menghalangi kami untuk pulang dengan segera, akan kami terjang. Tidak ada lagi kepedulian tentang bagaimana bentuk opletnya, tahun berapa rakitannya, siapa pun penumpang didalamnya, mau nenek-nenek yang kriput atau anak SD yang bau keringat, kami sudah tidak peduli lagi.

Wal hasil, dari kejauhan kami sudah lambaikan tangan kepada oplet yang bergerak mengarah kami, dan kami pun menaiki oplet tersebut dengan ikhlas se ikhlas ikhlasnya. Namun kami tidak bisa menahan ketawa sepanjang perjalanan kami di dalam oplet tersebut. Orang-orang didalam oplet tersebut hanya terheran-heran melihat kami. Tidak ada angin dan tidak ada ribut, tidak juga percakapan, yang ada hanya menahan tawa sekuat tenaga sepanjang perjalanan. Tiap salah satu dari kami mulai menahan tawa, yang lain pun akan ikut terimbas menahan tawa.

Tidak ada yang aneh di oplet tersebut yang membuat kami tertawa. Sebenarnya kami menertawakan diri kami sendiri, ternyata hasil yang kami perolah dari setumpuk pertimbangan dalam memilih oplet tersebut jatuh ke sebuah oplet yang diluar prediksi. Pilihan kami ternyata jatuh ke sebuah oplet yang memiliki standar dibawah oplet-oplet yang lewat sebelumnya, penumpangnya juga tidak ada yang menarik, jangankan untuk mendengar alunan musik, kotak speakernya juga tidak terlihat didalam oplet tersebut.

*** 

Hari ini ku berpikir sama saat melihat teman-teman dan orang-orang disekitarku yang masih setia dalam kesendiriannya. Sudah banyak lawan jenis yang mendekati, sudah sering pemuda atau pemudi yang memberi sinyal isyarat, namun tetap saja yang pertama dilihat adalah kelemahan atau kekurangan dari mereka. Setumpuk persyaratan telah disyaratkan dalam memilih. Satu persyaratan saja tidak terpenuhi langsung didiskualifikasi. Ia terus menunggu antrian berikutnya dengan harapan yang datang mampir berikutnya memenuhi hasrat hatinya. Menunggu dan terus menunggu dilakukannya, dan telah banyak yang datang dan pergi menghampiri, namun tetap saja ia mengharap sesuatu yang lebih baik yang akan datang berikutnya. Kemudian ia pun mulai lelah, energinya pun telah berkurang seiring bertambahnya umur. Hasrat pun semakin memuncak, tekanan semakin bertambah, mataharipun sudah meninggi pertanda sudah habis separuh hari, ketakutan tidak ada lagi yang antri semakin membesar, sampai suatu titik ia akan berkata “HARUS MENIKAH SEGERA”, tidak ada yang bisa menghalangi lagi, karena hasrat sudah sampai ke ubun-ubun. Tidak peduli dengan segala persyaratan yang ia telah tetapkan sebelumnya kecuali hanya sedikit, itu pun sekedar “Yang Penting Baik”.

Akhirnya ia pun menjatuhkan pilihan, sebuah pilihan yang diterimanya dengan ikhlas, bersama pilihannya tersebut ia melewati suka dan duka dalam hari-harinya, berbagi keceriaan bersama, saling mengisi kekurangan yang ada. Bersama pilihannya ia menjalani sisa-sisa hidupnya dengan bahagia. Sebuah kebahagian yang datang bukan karena terpenuhi segala persyaratan ketika dahulunya ia tetapkan, tetapi karena ia telah ikhlas akan garis hidupnya. Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah yang terbaik untuknya. Dalam perjalanan ia sadar, bahwa banyak kekurangan dalam dirinya, dan banyak hal yang ia pelajari dari pilihannya. Tidak ada kata penyesalan yang keluar, karena memang sudah tidak ada guna untuk menyesali yang telah ia lewati. Dalam kesendirian diheningnya malam hatinya berucap “dunia ini terlalu singkat untuk berlama-lama dalam menentukan pilihan, dan saya bersyukur walau terlambat, karena masih bisa menjatuhkan pilihan sebelum pilihan itu sudah habis. Karena mungkin saja, dia adalah antrian terakhir yang ALLAH datangkan, dan tidak ada lagi antrian dibelakangnya”.

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Selasa, 27 September 2011

Mengejar Dunia Dengan Alasan Akhirat

Pekanbaru, Selasa 27 September 2011 / 28 Syawal 1432H.
Mengejar Dunia Dengan Alasan Akhirat ( upaya legalitas keinginan nafsu )


"kalau kita kaya, kita bisa bersedekah, berinfak, membantu fakir miskin, menolong orang susah, membangun mesjid, mendirikan Madrasah, dan sebagainya. jadi dengan kaya lebih bisa banyak berbuat kebaikan sehingga lebih banyak meraup pahala"

kalimat diatas atau semakna dengannya sering dilontarkan oleh orang-orang yang sedang memiliki niat untuk mendapatkan kekayaan dunia, namun tidak ingin disalah-artikan oleh orang lain sebagai pengejar dunia. seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa kesibukan mereka terhadap dunia ini adalah untuk kemaslahatan umat islam dan akhiratnya.

Kalimat lainnya yang biasanya mengiringi kalimat diatas : “bekerja kan mendapat pahala juga, mencari uang kan mendapat pahala juga“

kebanyakan dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat diatas adalah kehidupan sahabat-sahabat nabi Muhammad SAW yang ALLAH telah takdirkan kaya terhadap mereka, seperti halnya usman bin affan dan abdurrahman bin auf radhiyallahu'anhuma.

Abu Hurairah berkata; "Utsman bin Affan sudah membeli surga dari Rasulullah dua kali; pertama ketika mendermakan hartanya untuk mengirimkan pasukan ke medan perang, Kedua ketika membeli sumber air (dari Raimah)"(HR.Tirmizi).
usman menyumbang 20.000 ribu dirham untuk sumur milik orang yahudi. di perang tabuk usman bin affan telah berinfak 300 unta dan 1.000 dirham.

kisah sahabat abdurrahman bin auf ra. tidak kalah menariknya, ia berinfak sebanyak dua ratus uqiyah ketika perang tabuk. ketika Rasulullah menanyakan apa yang ia tinggalakan untuk keluarganya, maka Abdurrahman menjawab, "Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan." "Berapa?" Tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, "Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Masih banyak lagi kisah kedermawanan para sahabat yang kaya. Cerita-cerita seperti ini sering dikumpulkan untuk dijadikan dalil dalam upaya legalitas aktifitas keduniaan orang-orang diatas.

BENARKAH SEMAKIN BANYAK HARTA AKAN BANYAK KEBAIKAN YANG BISA DIBAGI?

sekilas statment "semakin banyak harta semakin banyak kebaikan yang bisa dibagi dan menghasilkan pahala yang lebih banyak" sangat bisa diterima, terutama dari pandangan jumlah atau besaran yang diderma dengan satuan ukuran yang tampak atau lahiriah. Sudut pandang seperti ini hanya mengukur berapa besar nilai harta yang diderma, sehingga nilai atau angka 100 yang diderma akan dianggap lebih mulia dibanding angka 10. Seseorang yang berinfak dengan seekor sapi lebih berpahala dibanding seseorang yang berinfak dengan seekor kambing. memberi anak yatim dengan nasi bungkus dari rumah makan lebih berpahala dibanding seseorang yang memberi makan anak yatim dengan makanan yang biasa dimakan sehari-hari.

Ternyata melihat dari sudut pandang jumlah atau besaran derma yang diberikan seperti diatas tidak cukup. Kebaikan itu tidak saja dinilai dari satuan besaran derma, jauh dari  itu ALLAH mengganjarkan pahala kebaikan seseorang itu dari satuan besaran mujahadah dan keikhlasan. 10 dinar dengan 100 dinar yang diinfakkan tidak berarti lebih banyak pahala orang yang berinfak 100 dinar, karena yang dilihat itu seberapa mujahadahnya pengorbanan antara 10 dengan 100 dinar tersebut.

Dari abu hurairah r.a, ia berkata bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi SAW., “Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw bersabda, “Bersedekah pada waktu sehat, tamak kepada harta, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘ harta untuk sifulan sekian, dan untuk sifulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik sifulan (ahli waris)” (HR Bukhari,Muslim – Misykat).

Dari abu hurairah ra. Bertanya, “Ya Rasulullah, sedekah manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. Menjawab, “Sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang tidak mampu. Dan mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggunganmu (HR. Abu Daud – Misykat).

Didalam kitab fadhail shadaqah, setelah mengutip hadis diatas, Maulana muhammad zakaria al-kandahlawi rah.a. mengemukakan sebuah riwayat hadist dari Ali r.a. “Ali ra berkata bahwa tiga orang datang kepada Rasulullah saw. Salah seorang diantaranya berkata, “wahai Rasulullah, saya mempunyai uang seratus dinar, saya telah membelanjakannya sepuluh dinar dijalan Allah.” Kemudian orang kedua berkata, “Saya mempunyai uang sepuluh dinar, dan saya telah menyedekahkannya satu dinar.” Orang ketiga berkata, “Saya hanya mempunyai 1 dinar, dan saya menyedekahkannya sepersepuluh bagian dari uang tersebut.” Rasulullah saw bersabda, “pahala kalian sama, karena kalian bersedekah dengan sepersepuluh dari harta yang kalian miliki.”

Dalam hadist lain menyebutkan kisah semacam ini, Rasulullah saw menjelaskan jawaban atas pertanyaan mereka, bahwa mereka memperoleh pahala yang seimbang karena masing-masing telah menyedekahkan sepersepuluh harta mereka. Setelah bersabda, Rasulullah saw. Membaca ayat terakhir dalam ruku’ pertama surat ath-thalaq :

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuan-nya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tideak membebani seseorang melainkan (sekedar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. Kelak Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”(QS: Ath_Thalaq:7). (Kanzul-ummal).

‘Allamah Suyuti rah.a dalam kitab Durul manstur telah memberi keterangan tentang ayat diatas, yaitu sebuah kisah mengenai sahabat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ali r.a. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadist yang shahih yang menyatakan bahwa bersedekah satu dirham dapat menjadi lebih besar dari seratus ribu dirham dari segi pahalanya. Yaitu, apabila seseorang mempunyai uang sebesar dua dirham, kemudian ia menyedekahkannya sebesar satu dirham dijalan Allah. Dan orang lain yang mempunyai harta yang banyak dan menyedekahkannya hanya seratus ribu dirham, maka satu dirham yang disedekahkan orang pertama mempunyai pahala yang lebih banyak.

Hal yang menarik lainnya adalah pemilik harta belum tentu mendapatkan pahala lebih dari pada orang suruhannya. Misalnya seorang raja memberikan sebuah delima kepada seorang bawahannya untuk diberikan kepada seseorang yang sakit di sebuah kampung yang letakknya sangat jauh, maka apa yang dilakukan pegawai tersebut lebih berharga dibandingkan apa yang dilakukan oleh raja (Aini).

“Al ajru ‘ala qadrinnashob” (sesungguhnya pahala itu tergantung pada jerih payahnya).

Kalau kita cermati kisah perang tabuk, yang paling banyak dermanya saat itu adalah utsman bin affan r.a. dengan 300 unta + 1000 dinar. Tapi kisah yang terkenal bukan tentang sedekahnya utsman, melainkan abu bakar dan umar yang telah menyedekahkan seluruh harta dan separuh hartanya. Padahal seluruh harta yang dinfakkan abu bakar r.a. ketika itu tidak sebanyak apa yang diinfakkan utsman bin affan r.a. Begitu juga dengan umar bin khattab r.a., ia tidak menghitung total jumlah kesulurahan harta abu bakar untuk dibandingkan dengan jumlah total harta yang diinfakkannya, namun umar hanya melihat bahwa abu bakar telah menginfakkan "SELURUH HARTA" sedangkan ia hanya "SEPARUH HARTA".

Umar bin Khaththab r.a. menuturkan, "Rasulullah saw. menyuruh kami bersedekah. Kebetulan saat itu aku memiliki cukup banyak harta sehingga aku sempat berkata dalam hati, hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar r.a., jika memang berhasil mengalahkannya.’ Aku menemui Rasulullah saw. dengan menyerahkan se-tengah hartaku. Rasulullah saw. bertanya, 'Berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu?' Aku menjawab, 'Sebanyak yang kuserahkan ini.’ Kemudian datanglah Abu Bakar r.a. dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah saw. bertanya, 'Hai Abu Bakar, berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu.' Abu Bakar menjawab, 'Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.' Aku berkata dalam hati lagi, 'Demi Allah, aku tidak akan pernah dapat mengalahkannya'." (HR Tirmidzi) ( Diriwayatkan olel1 Tirmidzi, Kitab al-Manaqib; Bab fi Manaqib Abi Bakr, no.3675. Tirmidzi berKata, "Hadits ini hasan shahih".)

Umar merasa dirinya telah kalah dari abu bakar bukan karena banyaknya harta yang diinfak, tapi pengorbanan dan kecintaan terhadap agama yang menjadi acuan standarnya, umar masih menyisakan setengah hartanya, sementara abu bakar telah sepenuhnya berkorban untuk agama ini.

TIDAK BERCERMIN DENGAN KEHIDUPAN SAHABAT SECARA KESELURUHAN.

kalau kita perhatikan kehidupan sahabat secara komprehensif, maka kita akan melihat bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan perkara agama. ada sahabat yang habis hartanya karena agama, ada sahabat yang hartanya tetap atau tidak bertambah atau berkurang, ada juga sahabat yang rezekinya melimpah bertambah walaupun sudah habis-habisan menginfakkan hartanya. Tidak akan kita jumpai sahabat menyibukkan diri dan waktunya untuk mengumpulkan harta dengan alasan akhirat. Dahulu abu bakar r.a. adalah saudagar yang kaya, kemudian hartanya habis karena agama. Dahulu khadijah r.ha. adalah wanita yang kaya, kemudian hartanya habis untuk agama.

Utsman bin affan r.a. adalah pedagang, tapi kekayaannya bukan karena ia menyibukkan diri dengan perdagangannya. Abdurrahman bin auf r.a. juga pedagang yang kaya, tapi kekayaannya bukan karena ia menyibukkan diri dengan perdagangannya. utsman bin affan dan abdurrahman bin auf memang ALLAH telah takdirkan menjadi pedagang besar yang memasok barang dagangan dari syam. mereka tidak pernah meninggalkan panggilan jihad karena perdagangannya.

Intinya adalah : para sahabat berlomba-lomba untuk akhirat sesuai dengan kemampuannya. dan tiap sahabat memiliki kemuliaan tersendiri dari apa yang mereka usahakan terhadap akhiratnya. mereka tidak melihat bahwa jalan terbaik untuk mendapatkan akhirat adalah dengan banyak harta. bahkan... sahabat adalah orang-orang yang tidak peduli apakah hartanya berkurang atau bertambah karena agama.

Begitulah agama.., tiap orang bisa mulia dengan apa yang ia miliki. tiap orang bisa bahagia walau bagaimanapun kondisinya, tiap orang bisa saling berlomba untuk akhirat walau memiliki kapasitas yang berbeda.

orang kaya bisa berdalil dengan keutamaan berinfaknya.
orang miskin bisa berdalil dengan keutamaan seorang yang miskin ( 500 tahun lebih dahulu masuk surga dibanding kaya, dsb..)
orang berilmu bisa berdalil tentang keutamaan ilmunya.
orang yang hapal aquran bisa berdalil dengan keutamaan para huffaz.
orang yang terbata-bata membaca quran pun bisa berdalil dengan keutamaan orang yg bersungguh-sungguh membaca, sehingga mendapat 2 pahala.
imam bisa berdalil dengan keutamaan seorang imam, muazin pun bisa berdalil dengan keutamaan muazzin.
Sahabat-sahabat nabi bisa berdalil tentang keutamaannya, umat akhir zaman pun bisa berdalil dengan keutamaan umat akhir zaman.

intinya adalah : siapa pun, kondisi bagaimanpun, di zaman apa pun, di posisi manapun, bisa meraup pahala yang besar untuk akhiratnya, bisa memiliki andil besar untuk kebaikan, bisa saling berlomba menggapai ridho ALLAH, bisa saling bersaing mendapatkan surga yang tertinggi.

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuan-nya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tideak membebani seseorang melainkan (sekedar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. Kelak Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”(QS: Ath_Thalaq:7)

TIDAK PERLU BANYAK HARTA UNTUK KEJAR AKHIRAT, BAHKAN SI MISKIN LEBIH BERANI DAN BANYAK BERKORBAN DI BANDING SI KAYA.

Harta bukanlah hal yang tertinggi dalam jajaran tingkat pengorbanan agama karena azaz pengorbanan agama itu meliputi dua hal, yakni diri dan harta. Alllah selalu menggandeng dua hal ini ketika berbicara tentang pengorbanan terhadap agama :

"Berangkatlah engkau semua, dengan rasa ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta-harta dan dirimu semua fisabilillah." (at-Taubah: 41)

"Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang fisabilillah, sebab itu mereka dapat membunuh dan dibunuh, menurut janji yang sebenarnya dari Allah yang disebutkan dalam Taurat, Injil dan al-Quran. Siapakah yang lebih dapat memenuhi janjinya daripada Allah? Oleh sebab itu, bergembiralah engkau semua dengan perjanjian yang telah engkau semua perbuat dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar." (at-Taubah: 111)

"Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk-duduk -di rumah yakni tidak mengikuti peperangan- dari golongan kaum mu'minin yang bukan karena keuzuran, dengan orang-orang yang berjihad fisabilillah dengan barta-harta dan dirinya. Allah melebihkan tingkatan orang-orang yang berjihad dengan harta-harta dan dirinya itu daripada orang-orang yang duduk-duduk tadi. Kepada masing-masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang duduk-duduk dengan pahala yang besar, yaitu berupa derajat-derajat -yang tinggi, juga pengampunan dan kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 95-96)

"Hai sekalian orang-orang yang beriman. Sukakah kalau saya tunjukkan kepadamu semua akan sesuatu perdagangan yang dapat menyelamatkan engkau semua dari siksa yang menyakitkan? Yaitu supaya engkau semua beriman kepada Allah dan RasulNya dan pula berjihad fisabilillah dengan harta-harta dan dirimu semua. Yang sedemikian itu adalah lebih baik untukmu semua, jikalau engkau semua mengetahui. Allah juga akan mengampunkan dosa-dosamu semua serta memasukkan engkau semua dalam syurga-syurga yang mengalirlah sungai-sungai di bawahnya, demikian pula beberapa tempat tinggal yang indah di syurga 'Adn -kesenangan yang kekal- dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar. Ada pula pemberian-pemberian yang lain-lain yang engkau semua mencintainya, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (as-Shaf: 10-13)

Dilihat dari ayat-ayat diatas, ternyata azaz dari pengorbanan itu adalah diri dan harta. Seseorang itu disebut sempurna pengorbanannya untuk agama bila dirinya ikut terjun berjihad dengan hartanya sendiri. Dahulu sahabat nabi berjuang dengan dirinya dan hartanya masing-masing. Sahabat-sahabat yang tidak memiliki harta, bila ada perintah jihad, maka ia berusaha bekerja untuk mendapatkan harta dengan bekerja atau mengambil upah dan kemudian dengan harta itu ia berangkat berjihad. Sahabat-sahabat yang benar-benar tidak memiliki harta pun berangkat dengan harta orang lain. Yang tersisa dari itu adalah sahabat-sahabat yang memang memiliki keuzuran ( faktor usia, kondisi fisik yang lemah, dsb) sehingga hanya hartanya saja yang diinfakkan tanpa dirinya ikut serta. Dari hal ini dapat terlihat bahwa tingkat atau keutamaan berkorban dengan diri jauh lebih utama dari berkorban dengan sekedar harta.

".....Kepada masing-masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang duduk-duduk dengan pahala yang besar, yaitu berupa derajat-derajat -yang tinggi, juga pengampunan dan kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 95-96)

Dari bukti empiris di lapangan, ternyata yang terjadi di dunia dakwah adalah si miskin lebih berani berkorban untuk agama dibanding yang banyak harta. Si miskin lebih tangguh untuk meninggalkan pekerjaannya demi agama. Si miskin lebih sanggup untuk bersusah-susah dilapangan dibanding yang kaya. si miskin sanggup dengan resiko mati dalam da’wah dibanding yang banyak harta. Si miskin lebih tahan banting menerima tekanan dan hinaan dalam dakwah. Si miskin lebih berani meninggalkan harta dan keluarganya dibanding yang kaya.

Dan si kaya…, hanya berani memberi harta tanpa sanggup terjun langsung ke kancah da’wah dilapangan. Tidak sanggup berpanas-panas, tidak sanggup kelaparan, tidak sanggup terluka, tidak sanggup kerja kasar, tidak sanggup meninggalkan pekerjaan dalam waktu lama, tidak sanggup berpisah dengan rumah yang mewah menuju ke pelosok-pelosok negeri. Si kaya…., hanya memberi hartanya yang bahkan tidak sampai 1% dari hartanya untuk suatu keperluan agama.

=====================
kalau ada orang yang meninggalkan jabatan karena agama, maka ku cenderung percaya. tapi kalau ada orang yang mengejar jabatan dengan alasan agama atau akhirat, ku cenderung tidak percaya.

kalau ada orang yang sibuk menginfakan hartanya karena alasan agama, maka ku cenderung percaya. tapi kalau ada orang yang sibuk mencari harta dengan alasan agama dan ingin banyak pahala nantinya, maka ku ragu akan ketulusan niatnya.
==============

Icun bin abdullah
Klik Selengkapnya...

Kamis, 08 September 2011

Malu yang telah terkikis (buat facebooker)


Malu yang telah terkikis
Kadar iman yang telah menipis
Syahwat yang diumbar habis
Berfoto mesra dengan lawan jenis
Bangga dipampang di wall facebook dengan narsis
Suami istri pun tak berani bergaya persis
Inikan pulak masih bujang dara yang amis.




Lihat apa yang ditulis
Penuh kalimat kepayang dan romantis
Pujian dan ucapan sayang setinggi langit yang berlapis
Padahal masih berstatus pacaran yang hina dan najis

Oh… mana Orangtua dan saudara bujang dan gadis
Yang menjadi teman facebook si ganteng dan si manis
seolah mereka beranggapan itu sesuatu yang biasa dan logis
Melihat tanpa risau dan tangis.

Oh.. sungguh ironis..
Orangtua saudara bujang atau gadis
hidup hanya mengacu kepada syahwat dan modernis
malu, iman, agama dan norma adat dibungkus dan ditepis
Lupa akan dunia yang berakhir habis
Seolah diakhirat tanpa tanggungjawab hanya duduk manis
Saat tibanya nanti lihatlah siapa yang tertawa dan siapa yang menangis.

== icun bin abdullah==

*  untuk teman-teman facebook ku..
Klik Selengkapnya...

Sabtu, 23 Juli 2011

kumpulan pantun dan kata bersajak puasa dan hari raya

Jakarta, 23 Juli 2011 ( 8 hari jelang puasa 1432 H ), sambil menunggu jadwal keberangkatan di bandara soekarno hatta ke pekanbaru plus delay 30 menit. :)

Berikut ini merupakan kumpulan sms-sms yang masuk ke nomor HP ku 2 tahun terakhir yang berhubungan dengan menyambut bulan puasa dan hari raya yang masih tersimpan di memori HP (sebenarnya dahulu masih banyak lagi, tapi dah terdelete) . Diantaranya ada yang telah diubah suai, dan ada juga buatan sendiri sebagai balasan sms yang masuk. Mudah-mudah kumpulan sms pantun dan sajak puasa dan hari raya ini bermanfaat atau menjadi bahan referensi, terutama yang bingung membuat sajak, belum pernah kursus pantun, terlalu sibuk sehingga tidak sempat membuat pantun atau sajak. Selamat menikmati.. J

Sajak dan Pantun puasa dan hari raya 1430 dan 1431 H

Sajak :

  1. Bile nafas sudah semput, teringat pulak amal hanye sejumput, Alamat malaikat maut datang menjemput, ambil nyawe sekali renggut.

  1. Meminta maaf tak menjadi kita hina,

Memberi maaf tak menjadi kita bangga,

Tapi... Saling memafkan yang membuat kita Mulia,

karena manusia tak ada yang sempurna.

  1. Meski paras tak bersua wajah

Jemari disusun merangkai sembah

Mohon dimaafkan khilaf dan salah

Marhaban ramadhan yang penuh berkah

  1. Gema takbir memuja ilahi

Merangkai indahnya silaturahmi

Selamat hari raya idul fitri

Mohon maaf sucikan diri.

  1. Waktu mengalir bagaikan air

Ramadhan suci akan berakhir

Ada luka yang pernah terukir

Ada silap yang sempat tergulir

Maaf ku pinta mengiring gema takbir.

  1. Diantara baik dan kata

Antara canda dan tawa

Ada khilaf yang tercipta

Seuntai maaf penyejuk jiwa

Semoga kebersamaan selalu terjaga.

  1. Tersilap khilaf dalam candaku

Tergores luka dalam tawaku

Terbelit pilu dalam tingkahku

Tersinggung rasa dalam bicaraku

Harap besarku terhadapmu

Maafkan segala silaf dan salahku

Pantun :

  1. Kepulauan meranti name negeri

Ramai kapal singgah menepi

Ramadhan datang sekejap lagi

maaf ku mohon khilafnye diri

  1. Bunga melati indah berseri, cermin hati dihari suci

SMS dikirim pengganti diri, lambang dari silaturrahmi

  1. Indah nian bunga ditaman, warna berseri sejuk dipandang,

Alangkah indah bertemu romadhan, anugerah dan ampunan telah pun datang.

  1. Sirih dimakan si anak raja, dimakan diatas beranda,

SMS sudah kami terima, terucap pula kata yang sama.

  1. Sejadah indah nan berseri, Jadi hiasan hati nan suci,

SMS datang pengganti diri, tanda ikatan tali silaturrahmi.

  1. Ingat petuah sanak kerabat, indahnya mawar tapi berduri,

Andai tak sempat tangan berjabat, SMS ini pengganti diri.

  1. Berfatwa raja hulu balang, negeri melayu tanah harapan,

Romadhan sudah menjelang, salah dan khilaf mohon dimaafkan.

  1. Bingkai ketupat daun kelapa, kelapa muda enak dirasa,

Bulan romadhan telah pun tiba, maaf atas salah dan dosa kami sekeluarga.

  1. Tuai padi diwaktu petang, padi pulut masak besantan,

Awal romadhan sudah pun diambang, silaf dan salah mohon dimaafkan.

  1. Sungguh cantik burung kenari, terbang sampai ke pulau bintan

Ramadhan sehari lagi, salah dan khilaf mohon dimaafkan.

  1. Dari langkat ke kota medan, singgah sebentar membeli kain,

Selamat datang bulan romadhon, mohon maaf lahir dan bathin.

  1. Dari bengkalis ke negeri jiran, buah tangannye lempuk durian,

Telah pun datang bulan romadhan, lahir dan bathin mohon dimaafkan.

  1. Pucuk selasih tunas menjulang, tampak elok tolong dirapikan,

Puasa romadhan kembali datang, salah dan khilaf mohon dimaadkan.

  1. Sungguh cantik kain pelekat, dipakai orang pergi kepesta.

Idul fitri semakin dekat, mari disambut dengan suka cita

  1. Due tige orang malaysia, manakan same si Nurdin M Top,

Idul fitri menjelang tiba, silaturrahmi jangan di stop.

  1. Kembang Melati sungguhlah indah, ditengah halaman jadi hiasan,

Harum idul fitri tercium sudah, salah dan khilaf mohon dimaafkan.

  1. Kain songket merah delima

Dipakai oleh pangeran muda

Gema takbir menyeruak angkasa

Tande raye tlah pun tiba

Celamat ali laya oo..

Klik Selengkapnya...

Sabtu, 25 Juni 2011

Bahaya merasa telah mengikuti alquran dan sunnah padahal masih awam dan taqlid

Pekanbaru, 26 Juni 2011

Adanya kecenderungan saat ini, dengan selogan “kembali kepada aquran dan sunnah”, sehingga menyepelekan pendapat ulama mujtahid. Seseorang terlalu gampang beramal hanya dengan membaca 1 atau 2 ayat dan hadist saja.

Kaum muslimin pada umumnya, bila ditanyakan dalil dalam suatu amalan agama, biasanya cenderung tidak mampu menjawab. Di indonesia umumnya, bila ditanya tentang mazhab, maka kecenderungan menjawab adalah “saya bermazhab syafii”. Walaupun sebenarnya yang lebih tepat adalah “saya bermazhab orangtua saya”, atau “saya bermazhab dengan kebiasaan ditempat saya”

Posisi atau gambaran diatas, menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita masih dalam posisi taqlid dalam menjalankan agama. Kondisi seperti ini sangat rawan dan gampang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang ingin menanamkan kepahamannya, baik itu kelompok yang jelas-jelas tergolong aliran sesat, ataupun kelompok yang masih dalam ruang lingkup/koridor islam itu sendiri. Hanya dengan berbekal 1 atau 2 hadist, atau 1 atau 2 ayat saja, seseorang bisa dengan mudah dipengaruhi. Tidak cukup sampai disitu, selain mempengaruhi dalam tatacara beramal, juga dengan mudah berbalik arah menghukumi tatacara beramal masyarakat umumnya adalah salah,lemah, bid’ah, dan sebagainya..!

orang-orang seperti ini gampang terjebak dengan pemahaman agama yang timpang, terbius dengan kalimat “kembali kepada alquran dan sunnah”, kemudian dengan serta merta “yang penting ada dalil alquran dan hadist” nya. Jika tidak ada dalil quran dan sunah secara tekstual dan shohih tanpa ikhtilaf para muhaddist, maka sangat gampang mengcap bid’ah, tertolak, yang ujungnya memandang bahwa pelaku akan masuk neraka. padahal ulama terdahulu memiliki methode-methode dalam istimbath hukum, tidak sekedar tinjauan teks literatur dan sanad hadist saja.

Teringat ketika awal saya mempelajari agama dari buku-buku agama yang ada, buku-buku hadist, artikel-artikel fiqh, saat itu saya mulai teracuni dengan konsep yang didengungkan diatas. Saya contohkan saja, ketika saya melihat ada ikhtilaf fiqh dalam soal qunut subuh, saat itu saya mendapatkan tulisan dari orang-orang yang membid’ahkan qunut subuh. Tulisan itu mengemukakan segala dalil tentang qunut subuh yang kemudian dibantah satu persatu. Setelah semua dalil “berhasil” dipatahkan, kemudian barulah ditampilkan dalil dan pendapat-pendapat para ulama yang membid’ahkan perkara qunut tersebut. Wal hasil.., dari membaca tulisan itu, saya telah teracuni bahwa qunut subuh adalah bid’ah, ibadahnya akan tertolak, bahkan pelakunya terancam neraka. Untuk beberapa lama racun itu terus mengendap dalam diriku.

Kasus lainnya, ketika ada ikhtilaf fiqh tentang zikir dengan mengeraskan suara sehabis sholat, saat itu saya mendapatkan tulisan yang menbid’ahkan perkara tersebut, tulisan yang sangat terkesan komprehensif dalam membahas perkara tersebut, lengkap dengan dalil, pendapat ulama terdahulu berkenaan dalil tersebut, kemudian diikuti tafsir dari dalil-dalil tersebut. Wal hasil.... pikiranku juga teracuni bahwa mengeraskan suara disaat wirid sehabis sholat adalah perbuatan bid’ah, yang tertolak, yang ujungnya memandang bahwa pelakuknya bisa-bisa masuk neraka.

Kasus lainnya, ketika ada ikhtilaf tentang jumlah rekaat sholat terawih, sebuah buku atau artikel ku baca yang ketika itu bagiku sudah konmprehensif dalam membahas perkara ini. Lengkap dengan dalil dan argumentasi yang mendukung jumlah terawih dan witir 20+3=23 rekaat, kemudian dipatahkan satu persatu, kemudian dimunculkan dalil-dalil dan argumentasi yang mendukung jumlah rekaat sebanyak 8+3=11, sehingga jadilah 11 rekaat sebagai pemenang dengan skor telak tanpa balas terhadap 23 rekaat. Wal hasil.. racun yang menyebabkan ku merasa sudah mantap dan berilmu dengan perkara ini, dan merasa bahwa lebih “SUNNAH” kalau 11 rekaat dibanding 23 rekaat telah mengendap dalam diri ini. Bahkan ku sempat berdebat dengan orangtuaku yang mendukung 23 rekaat.

Waktu berlalu seiring semakin banyaknya bacaan dan muzakarah dengan para ustadz, orang-orang sholeh, dan bergabung dengan komunitas muslim di dunia maya. Mulailah racun itu terkikis secara perlahan. Mulailah diri ini paham posisi diri sebenarnya dalam ilmu agama, yang sebelumnya merasa sudah “beramal dengan dalil yang shohih”, sekarang mulai merasa tertipu dengan penggiringan sepihak dari kelompok tertentu dalam beramal.

Waktu yang berjalan telah mengungkap pandangan-pandangan lain dari apa yang saya baca dan pahami sebelumnya. Saya mulai paham ternyata 1 dalil yang sama bahkan bisa beda penafsiran. 1 dalil yang sama bisa beda para mujtahid dalam istimbath (mengambil hukum).

Terungkap bahwa banyak sekali generasi salafussholeh yang mendukung qunut shubuh, bahkan lebih banyak yang mendukung qunut subuh dibanding yang tidak mendukung.

Terungkap bahwa zikir dengan mengeraskan suara juga memiliki dalil yang bisa diterima.

Terungkap juga bahwa sholat terawih dengan jumlah rekaat 23 sangat banyak ulama yang menghasilkan istimbath seperti itu.

Saya ingin menceritakan kejadian terakhir 2 minggu yang lalu, dalam sebuah kajian ilmiah di musholla tempatku kerja, membahas tentang puasa dibulan sya’ban. Dalam kajian tersebut sang ustad mengupas tentang dalil yang shahih puasa dibulan sya’ban :

Sebagai dalil pembuka ia ketengahkan dalil :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

siapa melakukan amalan yang bukan dari urusan (agama) kami, maka amalannya tertolak
[. Bukhari-Muslim]

kemudian sang ustad kemukan dalil shahih tentang puasa dibulan syaban :

‏عَنْ ‏ ‏عَائِشَةَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ‏ ‏قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ‏

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956).

Kemudian sang ustad menjelaskan bahwa kebiasaan adanya kaum muslimin yang berpuasa sejak awal sya’ban sampai 10 hari, atau sejak awal sampai 15 hari (nifsyu syaban), atau sampai 20 syaban, adalah salah. lebih kurang ucapannya :

“bukan begini implementasi dari hadist ‘aisyah’ tersebut, dalil tersebut hanya menjelaskan bahwa rosulullah paling banyak berpuasa itu dibulan sya’ban, dan itu adalah puasa sunnah. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.” Juga berkata Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya.. Jadi mengkhususkan waktu seperti itu tidak diajarkan dalam hadist tersebut, yang benarnya adalah memperbanyak puasa-puasa sunnah yang jelas dalilnya, seperti puasa senin kamis, puasa 3 hari pertengahan bulan, bahkan kalau mau puasa daud(sehari puasa sehari tidak).”

Sebagai seorang talabul ilmi, maka kita harus jeli melihat tiap ucapan yang datang dari sang ustad, kita harus mampu menangkap atau memisahkan mana dalil, mana syarahan dari para ulama terdahulu, dan mana pendapat ustad itu sendiri. Mampu memisahkan 3 hal tersebut sangat penting untuk kita bersikap. Sehingga kita tidak terjebak merasa sudah mengembalikan amal kita langsung kepada alquran dan sunnah, padahal kita hanya mengikuti pendapat ustad tersebut saja.

Kita perhatikan kasus diatas. Dalil hadist cukup jelas merupakan dalil amm/umum. Tidak menyebutkan nama puasanya, tidak menyebutkan waktu/hari-harinya, tidak menyebutkan tata caranya.

Perhatikan lagi bagian syarahan, ibnu hajar dan ibnu rajab mensyarahkannya pun masih bersifat umum, ia menjelaskan bahwa puasa tersebut adalah sebagai puasa sunnah.

Sisa dari dalil hadist dan syarahan ibnu hajar dan ibnu rajab itu adalah pendapat ustad itu sendiri. Menganggap “fahua rodd”(amalannya tertolak) orang yang berpuasa diawal sya’ban sampai beberapa hari yang ia sanggupi adalah murni pendapat ustad, bukan dari “al-quran dan sunnah”.

Talabul ilmi yang tidak mampu memilah ketiga hal ini menyebabkan kesalahan dalam pemahamanan, sehingga berkata kepada orang yang berpuasa beberapa hari diawal-awal sya’ban dengan ucapan “beramal itu harus mengikuti alquran dan sunnah sesuai pemahaman generasi shalafussholeh”, padahal yang ia pahami itulah adalah pendapat ustad, bukan pendapat al-quran dan sunnah, bukan pula ulama terdahulu.

seseorang pernah mengomentari dari sebuah email tentang adanya ajakan secara lembut untuk meninggal mazhab yang ada dan kewajiban mengikut al-quran dan sunnah semata, dengan mengutip ucapan ke empat imam mazhab yang bernada sama, yakni :

Imam Syafi’I rahimahullah berkata : “Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan. (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

Maka pengirim email itu berkomentar lebih kurang ( beberapa kata sudah saya edit demi menjaga tidak terjadinya ketersinggungan kelompok tertentu) :

“Pernah di suatu masjid, ketika ana selesai shalat ada seorang ustadz yg mengisi kajian fiqh tentang shalat.Beliau berkata kurang lebih seperti ini " dalam shalat, kita harus benar-benar mengikuti Rasulullah, bukan mengikuti ajaran orang-orang tua kita, ustadz-ustadz kita, dan para ulama madzhab". "Ikuti sunah Rasulullh!". "Karena itu lupakan pelajaran-pelajaran yg pernah antum dapat! mari kita lihat langsung dari hadist-hadist bagaimana Rasulullah shalat".

Kemudian ustadz ini mengeluarkan buku "sifat shalat nabi" karangan salah seorang ulama timur tengah, dan sng ustad mengajak kita semua untuk mengikuti cara shalat yg disebutkan dalam buku tersebut.
Ana tertawa didalam hati..karena ana tahu di dalam buku tersebut, tidak hanya memuat hadist Rasulullah , tapi juga interpretasi dari syaikh tersebut terhadap hadist Rasulullah. Terdapat ijtihad Syaikh tersebut terhadap kekuatan riwayatnya juga ijtihadnya dalam memahami maksud hadist. Jadi ustadz tersebut mengajak orang meninggalkan Para Imam, dan diwaktu yg sama mengajak orang taqlid kepada syaikh tersebut.

Dan realita saat ini orang-orang yg bermadzhab dengan 4 madzhab terkenal sudah jarang sekali berselilsih. Yang banyak berselisih justru yg taqlid kepada ulama kontemporer termasuk taqlid kepada syaikh tersebut yang oleh pengikutnya digelar dengan “muhaddist zaman ini”. ironis! “
Ketahuilah untuk bisa melakukan istimbath hukum perlu perangkat keilmuan yg banyak. Jadi apa yg dikatakan para Imam madzhab tersebut bukan untuk kalangan awam seperti kita, tapi untuk ulama juga. Imam An-Nawai sudah menjelaskan maksud dari perkataan Imam Asyafi'i tersebut adalah untuk para ulama pada level tertentu, yg sudah mengkaji semua kitab karangan sang Imam. Orang awam dimanapun pasti taqlid (atau kalau tidak mau disebut taqlid, itiba'). Kalaupun tidak mau taqlid/itiba' dengan Imam madzhab pasti taqlid/itiba' dengan para syaikh atau ustadz-ustadznya."

Kita tidak bisa mengatakan kepada orang yang berpuasa diawal bulan sya’ban hingga beberapa hari menurut kesanggupan atau target yang ingin mereka capai sebagai suatu amalan baru yang diada-adakan tanpa dalil. Karena dalilnya umum berkenaan memperbanyak puasa, kemudian oleh ibnu hajar mengatakan puasa disini adalah sebagai puasa sunnah.

sebagaimana kita tidak bisa mengatakan orang-orang yang membiasakan diri melakukan kajian agama rutin tiap malam jum’at adalah mengkhususkan malam tertentu, karena dalil menuntut ilmu itu bersifat umum, jadi boleh hari apa saja dilakukan, boleh tiap malam jum’at, malam sabtu, tiap malam senin s/d kamis.

Sebagai contoh, perhatikan generasi terdahulu mengimplementasikan bulan saya’ban sebagai bulan para qori’ dengan menutup tokonya dan sibuk membaca quran :

Adalah Salamah bin Kuhail berkata:”Bulan ini adalah bulan membaca (alquran).Juga Habib bin Abi Tsabit apabila memasuki bulan Sya’ban berkata “Hadza Syahrul Qurra”( ini adalah bulannya para qori).Dan Umar bin Qois Al Mala-i apabila memasuki Sya’ban menutup tokonya untuk membaca Al Qur’an (Al Ghaflah ‘an Syahri Sya’ban http://www.rayatalislah.com/kalimah/chaabane1430.htm, )

Apakah lantas kita mengatakan bahwa umar bin qois tertolak bacaan qurannya karena tidak ada dalil yang menunjukkan secara eksplisit melakukan hal seperti itu? Tentu saja tidak.

Sebagai simpulan akhir dari tulisan ini, ingin ku sampaikan bahwa :
seorang awam dalam agama, masih memiliki jwa muda yang memiliki jasbah/semangat beragama, dengan gejolak jiwa yang ingin tampil beda melawan kebiasaan yang ada, namun tidak paham bagaimana proses dari terbentuknya sebuah istimbath hukum dalam suatu perkara, tidak paham dengan ranah ijtihad dan munculnya khilafiyah, tidak banyak mendengar atau membaca hadist, tidak mau membuka diri terhadap ulama atau ustad lain selain kelompoknya, ta’ashub(fanatik) terhadap syeikh dan kelompoknya, seorang yang awam seperti ini terlalu rawan untuk diracuni dengan pemahaman tertentu, baik itu pemahaman yang jelas jelas disepakati menyimpang oleh jumhur umat islam, maupun pemahaman yang merasa paling benar dalam beragama dengan selogan-selogan “kembali kepada al-quran dan sunnah”.

== icun bin abdullah ==
Klik Selengkapnya...

Kamis, 23 Juni 2011

Berpeluk-cium dahulu, berijab-qobul kemudian


Pekanbaru, 24 Juni 2011

Entah dari negara mana asalnya, entah bagaimana pula bisa terinfeksi ke Indonesia, entah siapa pula yang melakukan pertama di negeri melayu ini. Sepanjang yang diriku tau, yang pertama kali melakukan foto pre wedding adalah kelompok masyarakat menengah keatas, baik itu dari orang kaya atau pejabat berkuasa. Karena biaya untuk membuat sebuah undangan lux beserta gambar-gambar prewedding cukup menguras kantong celana. Satu undangan lux lengkap dengan foto pre wedding sebanding dengan 1 nasi bungkus dari Rumah Makan Minang, bahkan lebih mahal lagi biaya satu biji undangan tersebut. Dari segi mahalnya undangan ini saja, sudah cukup alasan bagi kita untuk menahan diri melakukannya, bukankah undangan itu akan dibuang ke tong sampah pada akhirnya ?

Berkenaan foto prewedding ini sudah ada beberapa ulama yang mengeluarkan pendapatnya, sebut saja misalnya Ketua MUI Sumut Prof Abdullah Syah pada oke zone

"Foto pre-wedding diharamkan, karena saat berfoto itu mereka belum memiliki ikatan apa-apa. Itu tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Kalau mau memasang foto di dalam undangan, pasang saja foto masing-masing bukan foto mesra," ujar Prof Abdullah Syah yang baru terpilih pada Desember 2010 lalu.


Atau pendapat cholil Ridwan Ketua MUI berkenaan pengharaman hal yang serupa oleh forum bahtsul masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri sebagaimana dilansir oleh detik com

Pengharaman kegiatan fotografi pra nikah (pre wedding) oleh forum bahtsul masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur ke-12 di Ponpes Lirboyo, Kediri, diamini Ketua Majelis Utama Indonesia (MUI) Cholil Ridwan. Cholil setuju karena hal itu selaras dengan ajaran Islam.

"Kalau dikembalikan ke syariat, saya tidak keberatan atas fatwa itu," ujar Cholil pada detikcom, Jumat (15/1/2010).


Nada serupa juga disampaikan olehAnnisa Trihapsari
"Kalau masalah itu aku setuju. Walaupun aku pernah," ujar Annisa ditemui di acara Autan di Taman Buah Mekarsari, Cibubur, Jawa Barat, Selasa (19/1/2010).

Menurut mantan istri Adjie Pangestu tersebut, kegiatan foto pre wedding bisa mengundang syahwat. Kegiatan pelukan ataupun memegang tangan pun tak disarankan


Mungkin ada yang berpikiran lain, atau ada yang mengajukan pertanyaan : bagaimana kalau fotonya tidak bersentuhan fisik ??

Dalam foto pre wedding yang seperi itu memang ada beberapa pendapat berkenaan hukumnya., dan saya tidak ingin masuk keranah pentarjihan yang mana dianggap paling kuat, dan tulisan ini pun bukan untuk hal tersebut. Secara pribadi bagiku hukum melakukan foto prewedding berada diantara makruh s/d haram, alias tidak sampai jatuh kepada mubah, ini mengingat dari segi mubazir/mahal, dan rentannya fitnah yang ditimbulkan.

Namun ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan bagi yang berpandangan bolehnya foto pre wedding :

Pertama : dari segi pakaian. Pakaian harus sesuai dengan syariat islam. terutama bagi wanita, yang dimaksud menutup aurat bukan saja menutup/membungkus badan saja, tapi harus menutupi lekuk tubuh (longgar), tebal (tidak transparan), tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir, dsbnya.

Kedua : dari segi model/gaya foto, harus menghindari kesan mesra, centil, sexy, mengundang syahwat.

Ketiga : kegiatan pemotretan : harus benar-benar aman dan tidak melanggar adat dan agama. Misalnya pergi berduaan kelokasi pemotretan, pulang berduaan dari lokasi pemotretan.

Kalau kita tunjau dari segi adat, seseorang yang ingin menikah tidak dibenarkan berjumpa sampai sah menjadi suami istri, ini sebenarnya hanya bersifat preventif saja agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Orangtua terdahulu mengistilahkan “anyir” bagi orang yang ingin menikah, yakni rentan terjadi fitnah, rentan terjadi hal-hal yang bisa membatalkan/merusak pernikahan, hal yang sangat sepele sekalipun bisa membuat batal pernikahan. Sebut saja misalnya hanya gara-gara gurauan yang dianggap serius, atau tersinggung calon mertua karena sikap atau ucapan. Saya pernah mendengar batalnya pernikahan disebabkan terjadinya sengketa antara sepupu dari pihak wanita yang ingin menikah dengan abang dari pihak pria, padahal tidak ada hubungan langsung antara yang ingin menikah dan antara keluarga yang ingin menikah.

Dari segi kacamata agama, bepergian wanita dan laki-laki yang bukan mahrom adalah sebuah kesalahan, duduk berdekatan dengan sengaja juga sebuah kesalahan, apa lagi dibumbui dengan aroma wangi yang sangat bisa mengundang syahwat.semua hal tersebut menyebabkan terjadinya zina :

• “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)


• “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).


“Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Sebagai pesan terakhir kutitipkan sebait pantun :

Lauk sudah ulam pun sudah
Tinggal menunggu cuci tangannye
Peluk sudah cium pun sudah
Tinggal menunggu ijab qobulnye.


jadilah suami istri dan kemudian berfotolah, jangan berfoto layaknya suami istri sebelum menjadi suami istri. Bukankah tiap sesuatu itu akan dipertanggungjawabkan kelak diakhirat ? Klik Selengkapnya...